Selasa, 23 Juli 2013

Left Thinking: Madilog dan Teori Politik Tan Malaka

Left Thinking: Madilog dan Teori Politik Tan Malaka: Ilustrasi teori politik Berbagai macam teori politik modern berkembang saat ini. Teori politik pada umumnya tidak bisa dipastikan...

Rabu, 17 Juli 2013

Sejarah Filsafat Klasik



1. Filsafat Yunani
Para sarjana filsafat mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Karena itu tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada study perkembangan pemikiran filsafat di negeri Yunani. Alfred Whitehead mengatakan tentang Plato: "All Western phylosophy is but a series of footnotes to Plato". Pada Plato dan filsafat Yunani umumnya dijumpai problem filsafat yang masih dipersoalkan sampai hari ini. Tema-tema filsafat Yunani seperti ada, menjadi, substansi, ruang, waktu, kebenaran, jiwa, pengenalan, Allah dan dunia merupakan tema-tema bagi filsafat seluruhnya.

Filsuf- Filsuf Pertama
Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang terus menerus di alam. Mereka mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya itu. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximandros berpendapat to apeiron atau yang tak terbatas sedangkan Anaximenes menunjuk udara.

Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yang pertama adalah ikan. Dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.

Filosof berikutnya yang perlu diperkenalkan adalah Pythagoras. Ajaran-ajarannya yang pokok adalah pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah ke dalam hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan dengan bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum matematis. Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Ketiga mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagat raya bukanlah bumi melainkan Hestia (Api), sebagaimana perapian merupakan pusat dari sebuah rumah.

Pada jaman Pythagoras ada Herakleitos Di kota Ephesos dan menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu yang ada sedang menjadi. Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai uden menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap. Filosof pertama yang disebut sebagai peletak dasar metafisika adalah Parmenides. Parmenides berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada 1) satu dan tidak terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan, 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos.

Para filsuf tersebut dikenal sebagai filsuf monisme yaitu pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja. Para Filsuf berikut ini dikenal sebagai filsuf pluralis, karena pandangannya yang menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu api, udara, tanah dan air. Perubahan-perubahan yang terjadi di alam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu cinta (Philotes) dan benci (Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa pengenalan (manusia) berdasarkan prinsip yang sama mengenal yang sama. Pluralis yang berikutnya adalah Anaxagoras, yang mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yang mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging.

Perubahan yang membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yang berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus mengenal serta mengusai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yang membedakan antara "yang ruhani" dan "yang jasmani". Pluralis Leukippos dan Demokritos juga disebut sebagai filsuf atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini disebut atomos. Lebih lanjut dikatakan bahwa atom-atom dibedakan melalui tiga cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti AN dan NA) dan posisinya (seperti N dan Z). Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides atom-atom tidak dijadikan dan kekal.

Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari dua hal: yang penuh yaitu atom-atom dan yang kosong. Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yang terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti benda itu). Eidola ini masuk ke dalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa yang juga terdiri dari atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yang manis, panas, dingin dan sebagainya, semua hanya berkuantitatif belaka. Atom jiwa bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas, dan seterusnya.

Madilog dan Teori Politik Tan Malaka




Ilustrasi teori politik
Berbagai macam teori politik modern berkembang saat ini. Teori politik pada umumnya tidak bisa dipastikan menjadi satu kesatuan yang tetap. Seorang individu atau kelompok depat menetukan teori politiknya sendiri, sesuai dengan kondisi sosial yang sedang berkembang tentunya.
Perihal mengenai politik pasti menjadi perbincangan yang menarik dari sebuah negara. Politik selalu erat dengan pemikiran seseorang yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kehidupan sosial di sekitarnya. Teori politik pun menjadi semacam pembenaran ketika melakukan sesuatu yang dianggapnya benar.
Teori politik sendiri sebenarnya memiliki dua makna. Bergantung dari mana orang tersebut memandang politik itu sendiri. Pengertian teori politik yang pertama adalah teori politik sebagai hasil pemikiran bersifat spekulatif mengenai pengaturan masyarakat dan aturan-aturan di sekitar masyarakat yang ideal.
Berbeda dengan pengertian teori politik yang kedua. Teori politik yang kedua cenderung lebih bersifat ilmiah. Teori politik dipandang sebagai suatu kajian yang sistematis, terarah dan terkendali yang berkenaan dengan segala kegiatan bermasyarakat.
Kedua pengertian dari teori politik in kemudian secara tidak langsung menimbulkan dua pandangan yang berbeda. Para pemikir pun sibuk mengelompokkan pendapat mereka tentang apa itu politik. Termasuk para pemikir Indonesia yang mengabdikan hidupnya untuk hal yang cukup rumit ini.
Mengapa rumit? Rasanya semua orang akan setuju jika politik merupakan hal yang cukup rumit. Dari dua persepsi yang berbeda tentang teori politik saja bisa dapat dipastikan bahwa politik akan menimbulkan polemik khasnya. Perbedaan pendapat bahkan sudah mendasari dan melatarbelakangi terciptakan politik di masyarakar.
Pergolakan yang mengatasnamakan politik tidak pernah habis dibahas. Selalu akan ada permasalahan baru yang erat kaitannya dengan hal yang satu itu. Teori politik yang dikeluarkan oleh para orang pintar itu kemudian menjadi semacam tameng. Tameng untuk melindungi dirinya, pemikirannya, dan orang-orang yang berada di pihaknya. Istilah seperti konspirasi merupakan salah satu penggambaran jelas tentang ini semua.
Bagaimanapun keadaannya, teori politik akan tetap menjadi sebuah teori, yang tidak akan lengkap tanpa praktik. Praktiknya adalah benar-benar menjalankan apa yang ideal untuk masyarakat. Jika tidak, spekulasi tentang teori politik ini akan terus berlanjut hingga entah kapan.
Salah satu teori politik pada zamannya yang saat itu menjadi pembicaraan adalah Tan Malaka. Indonesia memiliki sesosok pemikir yang kritis dalam memandang kehidupan politik di Indoensia. Teori politiknya yang liar, sempat dianggap sebagai "penganggu".

Teori Politik Tan Malaka – Perjalanan Politik Tan Malaka
Sosok dibalik teori politik “khusus” ini adalah Tan Malaka. Tan Malaka merupakan pria kelahiran Desa Nagari Pandam Gada, Sumatera Barat 19 Februari 1896. Perjalanan politiknya dimulai pada 1921. Aliran teori politiknya adalah sosialis. Tapi sosialis yang berbeda dengan yang lainnya. Hal ini terlihat saat ia pernah berselisih dengan partai komunis Indonesia yang juga beraliran sosialis.
Teori politik yang dianutnya ditunjukkan dengan mendirikan sebuah partai bernama Partai Muba. Semua itu terjadi begitu saja, dan ketika ia melihat sebuah perlakukan sosial yang tidak adil pada masyarakat saat menjadi guru di daerah
Kiprah politiknya dimulai adalah saat ia bertemu Semaun, salah satu tokoh politik. Mereka merencanakan gerakan yang ingin menjungkalkan pemerintah Hindia Belanda yang saat itu sewenang-wenang dan berkuasa. Bukti nyata yang tersaji saat itu adalah perlakuan tidak adil antara tuan tanah dan para pekerjanya. Teori politik yang dianut oleh Tan Malaka ini tentu saja ditentang oleh pihak Belanda.
Bersama Semaun, Tan Malaka yang punya pengalaman sebagai seorang pendidik, berniat untuk mendidik kaum muda yang tergabung dalam serikat Islam pada saat itu. Tan Malaka berpikiran bahwa melalui ilmu-ilmu belajar, teori politik yang dia percayai bisa ikut diamini oleh kaum muda.
Ilmu-ilmu yang akan dibagi pada saat itu adalah tentang aliran, dan ajaran politik komunis, kegiatan jurnalistik, tapi hal tersebut mendapat tentangan dari pemerintah Hinda Belanda yang saat itu berkuasa. Tapi Tan Malaka tidak menyerah saat itu. Ia tetap kukuh dengan apa yang akan dilakukannya. Ia tetap memegang teguh teori politik yang dianggapnya ideal tersebut.
Selain mengajar, untuk memberikan gambaran teori politik, Tan Malaka tetap melakukan gerakan-gerakan sosial yang berlandaskan adanya ketidakadilan di antara penguasa yang kapitalis dengan kesengsaraan buruh. Keseriusan Tan Malaka dalam hal-hal yang berkaitan dengan sosialis dan komunis. Hal ini terbukti, ketika ia ikut menyuarakan hak dan suaranya dalam kongres-kongres komunis di Moskow, Uni Soviet.
Peristiwa pemberontakan yang terjadi pada 1926, memaksa Tan Malaka untuk kembali pulang ke Indonesia, akibat ia tangkapnya beberapa pejuang-pejuang politik pada saat itu. Akhirnya, Tan Malaka dengan beberapa temannya berjuang lagi dari bawah dan membuat Partai Republik Indonesia, untuk kembali memperjuangkan Indonesia sesuai dengan apa yang diinginkannya. Meskipun teori politik yang dianutnya membuat ia kesusahan, Tan Malaka tetap tidak menyerah.

Teori Politik Tan Malaka dan Ajaran Madilog
Hal yang paling diingat dari teori politik Tan Malaka adalah ajaran Madilog. Madilog dikembangkan karena ajaran tersebut menggabungkan sebuah kajian ilmu yang sudah diterapkan dan disesuaikan dengan keadaan serta budaya di Indonesia.
Dengan "Madilog", ini Tan Malaka juga ingin membawa republik Indonesia ke tingkatan yang lebih baik. Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah sebuah bukti nyata atau fakta-fakta yang telah terjadi selama ini. Sementara idealisme yang diusung oleh Tan Malaka adalah sikap seseorang, pikiran, serta kesatuan yang terwujud. Teori politik yang dianutnya dirasa pas dengan ajaran-ajaran dari Madilog.
Sifat seperti ini memang sudah dialami Tan Malaka saat ia melihat penindasan yang semena-semena, antara pemerintah Hindia Belanda terhadap orang-orang di Indonesia, pada saat itu. Hal itu dilakukannya terus, termasuk saat transisi setelah Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya pada 1945. Teori politik yang dianutnya itu menjadi pegangan Tan Malaka dalam bertindak.
Kegiatan dan ajaran Madilognya tersebut membuat ia menjadi sosok yang dianggap pengganggu. Tan Malaka pernah ditangkap pada 1946 akibat teori politiknya. Tapi dibebaskan, ketika terjadi pemberontakan PKI pada 1948. Peristiwa pemberontakan yang dilakukan PKI beriringan dengan apa yang terjadi pada saat transisi kemerdekaan Republik Indonesia, serta beberapa peristiwa lainnya seperti Perjanjian Linggarjati, serta Perundingan Renville.
Teori Politik Tan Malaka – Menghilangnya Seorang Tan Malaka
Dengan situasi yang tidak terkendali pada saat itu, Tan Malaka mendirikan partai baru yang diberi nama Murba dan masih menyandang teori politiknya yang madilog. Di masa transisi dengan keadaan yang tak terkendali, Tan Malaka seperti menghilang begitu saja.
Berbagai cerita dan versi mengatakan bahwa Tan Malaka meninggal saat memperjuangkan teori politiknya dari satu ke tempat lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa ia ditembak mati oleh pihak militer yang mengatakan bahwa Tan Malaka adalah "ancaman" tersendiri. Apa pun versi menghilangnya seorang Tan Malaka, ia tetaplah seorang pahlawan.
Hal itu bisa dilihat dari caranya memandang sesuatu permasalahan dan mengatasi permasalahan, dimulai dari berkuasanya pemerintah Hindia Belanda, sampai pada saat transisi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Teori politik Madilognya akan selalu dijadikan sebagai bahan kajian ilmu politik yang terus berkembang hingga saat ini.
MADILOGnya Tan Malaka
Dan mereka berkata : "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanalah menduga-duga saja (QS 45:24).
Dalam dunia kayal (imajinasi, fantasi) Tan Malaka, berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG)nya, maka perarungan antara klas yang berpunya danklas yang tak berpunya akan berakhir dengan kemenangan klas yang tak berpunya. Dalam kayalnya, klas yang takberpunya itu adalahklas yang kuat, sedangkan klas yang berpunya itu adalah klas yang lemah, maka dalam pertarungan, yang lemah kalah, yang kuat menang. Dalam dunia kayal bisa terjadi seperti itu. Tapi dalam dunia nyata (realita), teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG) adalah omong kosong belaka. Bahkan berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG) sendiri tak pernah ditemukan, dijumpaibukti dalam dunia nyata, bahwa yang tak erpunya bisa mengalahkan yang berpunya. Juga berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG), maka pertarungan itu takpernah berakhir. Tarik menarik antara proton positip dan elektron negatip takpernah berakhir. Akhir suatu pertarungan adalah awal pertarungan berikutnya. Pertarungan tak pernah berakhir.Tak ada yang berhenti, semuanya bergerak terus menerus. Berakhirnya pertarungan adalah berakhirnya gerak, tammatnyadunia. Tammatnya dunia bertentangan sekaligus bersesuaian dengan Dialektika Mterialis (MADILOG).
MADILOGnya Tan Malaka tak pernah dapat perhatian dan sambutan dari siapa pun. Tak ada literatur yang mendukung, mengulas, menafsirkan MADILOGnya Tan Malaka daripara proletar, Murba, Komunis. Anjuga tak ada literatur yang mengecam,menantang, mengkritik MADILOGnya Tan Malaka dari para borjuis, Kapitalis.
Salaha atu keahlian Tan Malaka dengan Dialektika-Materialis (MADILOG)nyaadalah kejeniusannya membungkus, mengemas teori (kayal)nya sehingga sepintas tamapak terlihat nyata dalamrealita dengan bukti-buktiilmiah. Tan Malaka sangat lancar (bertele-tele) mengangkat bukti-bukti ilmiah untuk memenangkan klas yang tak berpunya atas klas yang berpunya. Tapi tak pernah menampilkan bukti nyata atas keberpihakkannya pda klas yang tak berpunya dalam realita, dalam praktek, bukan dalam dunia teori (kayal). Asas program, pidato, karangan, propaganda dan agitasi yang nyata (dalam kayal Tan Malaka) gagl mempersatukan seluruh yang tak punya. Tan Malaka tetapsaja berada di awang-awang idealis, tak berpijak pada bumi realis.
Para ahli diharapkan dapat menyusun sanggahan/sangkalan (bab per bab, pasal per pasal, paragraf per paragraf, alinea per alinea) untuk meluruskan, membetulkan, mengoreksi seluruh teori, ajaran, pseudo ilmiah yang sesat mnysatkan. Tan Malaka sejak dari awal sampai akhir MADILOGnya secara licin/licik (rekayasa logis-rasional) menggiring pembacanya ke arah atheis, menolak, menyangkal "kun fa yakun", mengembalikan semuanya pada serba benda (materialis), barang mati (anorganik), tanpa nyawa, tanpa jiwa, tanpa hati, tanpa prasaan (brain, hart, intellect, mind, ratio, reason, sense, soul, spirit), yang hanya bisa diserap/dicerap oleh panca indra. Tan Malaka gagal menjelaskan prbedaan antara sel/atom kayu bakar dengan sel/atom pohon beringin.
Ahli Ilmu Alam benda mti (Ilmu Bukti) murni mempelajari aktivitas alam dunia dan mencari hukum-hukum tentang aktivitas alama dunia itu saja, tidak memasuki wilayah ketuhanan (theologi), alam akhirat. Ahli Filsafat dikatakan terbagi dua. Pertama, Ahli Filsafat Idealis berfikir secara abstrak, tidak berdasarkan benda. Kedua, Ahli Filsafat Materialis berfikir secara konkrit, berdasarkan benda mati (materialis(. Yang merasa diri sebgai Ahli Filsafat Materialis semacam Tan Malaka sangat bernafsu menggunakan hasil temuan Ahli Ilmu Alam benda mati (Ilmu Bukti) untuk menyangkal, menolak, mengingkari adanya Tuhan Yang Mah Esa, alam akhirat.
Tan Malaka mengisahkan bahwa Tan Malaka kecil/muda lahir dalam keluarga Islam yang taat. Diantara keluarganya adalah seoang alim ulama yang dianggap keramat. Kedua Ibu Bapaknya taat dan takut kepada Allah dan menjalankan suruhan Nabi.Tan Malaka kecil sudah bisa menafsirkan alQur:an dan dijadikan guru muda (asisten). Matanya basah ketika mendengarkan cerita kepiatuan Muhammad bin Abdullah. Ia menghapal dalam bahasa Arab dan Belanda. Ia menganggap bahasa Arab sempurna, kaya, merdu, jitu dan mulia. Ia menammatkan terjemahan alQur:an dalam bahasa Belanda bebrapa kali. Ia membaca tentang Islam dari Snouck Hurgronya, Sales, Maulana Mohammad Ali. Namun Tan Malaka dewasa mempertanyakan, mempermasalahkan, mempersoalkan : Dimanakah tempatnya nerakaitu ? Apa bahaya apineraka yang menyala terus menerus itu ? Bagaimana bisa mayat-mayat yang sudah hancur luluh dan lebur itu digenap bulatkan kembali ? Bagaimana bisa Tuhan Yang Maha Kasih itu sampai hati melihat makhluk yang dijadikanNya itu berteriak-teriak menjerit-jerit dimakan api neraka yang maha panas itu ? Setelah mempelajari, merenungkan, menyaksikan, mengetahui Alam Terkembang, mka dalam otak, benak, tengkorak Tan Malaka bersarang tersimpul, terlihat bahwa semuanya itu hanyalah benda anorganik belaka, takada alam akhirat, tak ada Tuhan. MADILOGnya Tan Malaka berupaya meyakinkan untuk mengakui bahwa yang pantas diagungkan, dikagumi, diperingati adalah keributan tahun 1926 yang dipengaruhi PKI, dan pemimpin PKI semacam Dahlan, AliArcham, Haji Misbah, Sugono, Dirja, dan lain-lain. Bagaimana pun pintarnya bersilat lidah, menjungkir-balikkan kebenaran dengan MADILOG (Materialis, Dialektika, Logika), namun Tan Malaka tak pernah dikenal sebagai sosok yang jujur, yang omongannya bisa dipercaya, yang setia menyantuni para proletar.
Orang-orang komunis beranggapan bahwa kebenaran abadi yang tidak dapat diragukan, yang tidak dapat diperdebatkan adalah "Dialektika Materialisme" (Muhammad Quthub : "Jawaban Terhadap alam Fikiran Barat Yang Keliru Tentang Al-Islam", 1981:42).
Logika Aristoteles "ORGANON" (alat untuk mencapai kebenaran) sampai sekarang masih dipandang tahan dari kritik-kritik (Drs M Umar, dkk : "Fiqih-Ushul Fiqih-Mantiq", I, 1984/1985:104).
Orang-orang atheis mencoba memungkiri adanya Tuhan, merasakan dirinya diadakan oleh alam secara kebetulan. Mereka terus mencoba mempengaruhi manusia untuk mempercayai adanya hidup tanapa adanya Tuhan. Tetapi teori evolusi Darwin tentang hidup membuktikan bahwa hidup muncul tanpa Tuhan itu adalah pengakuan yang bertentangana dengan fitrah manusia itu sendiri. Fitrah manusia mengakui, mengmani adanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa (Sayyid Quthub : "Tafsir Dibawah naungan alQur:an", II, 1985:84).
Imam alGhazali mengelompokkan ahali-ahli filsafat ke dalam tiga golongan : Pertama, Golongan Dahri (Filsafat skepstis, atheis, materialis, eksistensialis, zindiq), yaitu yang p3ercaya kepada keabadian dari pada benda (Hukum Kekekalan Massa dan Hukum Kekekalan Energi) dan menolak meyakini adanya Yang maha Pencipta (generatio spontanae). Kedua, Golongan Thabi’I (Filsafat Naturalis) yaitu yang percaya terhadap Yang Maha Pencipta, tapi berfikir bahwa jiwa manusia itu ketika berpisah dari pada tubuh kasar juga ikut mati dan oleh sebab itu tidak ada perhitungan mengenai tindak-tanduk manusia. Ketiga, Golongan Ilahi (Filsafat Deis), yaitu yang percaya kepada Tuhan (Imam alGhazali : "Pembebas Dari Kesesatan", 1986:21-23, Sayid Amir Ali : "Ilham Islam", 259-260).
Sebagian pertanyaan yang mungkin bersarang di benak, di otak orang-orang semacam Tan Malaka, dapat disimak antara lain dalam Mingguan PERTAHANAN ISLAM, Fort de Kock (Bukittinggi, Sumatera Barat), No.1, Tahun ke-I, 15 Maret 1939, hal 14-19. Sedangkan jawabannya, dapat ditemukan antara lain dalam "Islam & Wetenschap" (Islam dan Sains Modern), I-III, 1938, terbitan Boekhandel KAHAMY, Fort de Kock Bukittinggi, Sumatera Barat.

Harry Poeze dan Ironi Tan Malaka


MENYEBUT sejarah munculnya pergerakan komunisme di Hindia Belanda tahun 1920-an, sangatlah tidak mungkin melewatkan nama Tan Malaka (1897-1949). Akan terlalu panjang mengurai kiprah dan sepak terjang tokoh pergerakan yang diselubungi berbagai misteri ini. Mulai dari petualangan politiknya di berbagai negara Eropa dan Asia, kematiannya yang tragis, hingga namanya yang dilupakan dan “diharamkan” selama 30 tahun oleh rezim yang mencapnya sebagai seorang komunis. Padahal di mata PKI dan komunis internasional (Komintern), sejak tahun 1927, TM dianggap sebagai murtad, seorang Troskys (pengikut Trotsky yang jadi lawan Lenin dan Stalin) yang terus diburu. 

Meski tahun 1963 Presiden RI Soekarno telah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Kepres  No. 53/ 1963. Revolusi kemerdekaan bukan hanya telah memakan, tapi juga telah melupakan anaknya sendiri. Itulah yang terjadi pada Tan Malaka (TM). TM seolah sebuah takdir ihwal kesetian seorang pemikir pejuang yang terus dikalahkan, dilupakan, dan dipenuhi ironi. 

TM adalah sebuah ironi ketika ia dijebloskan ke dalam penjara oleh negara republik yang diimpikannya. Begitu pula dengan kematiannya. Ia di tembak oleh sebuah batalyon TNI di desa kecil Selopanggung Kab. Kediri Jatim tahun 1949 dalam situasi krisis politik dan perbedaan garis perjuangan. Sejak itu orang hanya tahu TM ditembak mati tapi tak pernah tahu, bahkan tak perduli, di mana kuburnya.

Sejak pertengahan tahun 1980-an, banyak orang di Indonesia dikagetkan oleh seorang sejarawan dan peneliti Belanda yang begitu intens mengkaji jejak perjuangan TM, Harry Poeze. Sejak tahun 1971 ia telah “jatuh hati” pada sosok TM. Tak hanya skripsi bahkan juga desertasinya seluruhnya berpusat pada TM. Sampai hari ini telah enam buku tebal yang ditulisnya ihwal TM, yang keseluruhannya berjumlah 2.200 halaman!

Rasanya, tak ada sejarawan asing yang begitu intens menelaah dan meneliti seorang tokoh Indonesia seperti Harry Poeze. Tidak juga Rudolf Mrazek yang menulis Sutan Syahrir. Dari riset Harry Poeze yang berpuluh tahun inilah ditemukan sebuah makam yang diduga keras sebagai makam TM, di Desa Selopanjang Kab. Kediri Jatim. Seorang sejarawan Belanda yang puluhan tahun meneliti dan menemukan makam TM, bukankah ini adalah sebuah ironi berikutnya?       

Maka, menyebut TM hari ini adalah menyebut Harry Poeze. Di matanya, TM adalah contoh paling penting tentang bagaimana seseorang memperjuangkan nasib bangsa dan negaranya, dengan melalui berbagai penderitaan yang tak menyurutkan semangatnya. Dalam pandangannya, tokoh heroik Amerika Latin sekelas Che Ghuevara sekalipun tidaklah bisa disejajarkan dengan TM.

“Tan Malaka bukan “Che Ghuevara”-nya Asia. Tapi,  justru Che Guevara adalah “Tan Malaka”-nya Amerika”, ujar Harry Poeze dalam kunjungan ke Redaksi “PR”, Kamis (5/1). Kedatangannya ke Bandung merupakan bagian diskusi buku terbarunya, Madiun 1948, PKI Bergerak yang berlangsung di kampus Unisba.

“Buku ini hasil riset saya sepuluh tahun, jilid keenam yang keseluruhannya memaparkan kiprah TM dan pergolakan yang ditimbulkan oleh partai komunis di Indonesia,” ujar sejarawan kelahiran Groningen Negeri Belanda 20 Oktober 1947 ini dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Dalam suasana silaturahmi bersama Pemred “PR” H. Budhyana, Redaktur Erwin Kustiman dan Rachim Asyik Fajar, wawancara ini berlangsung. Mulai dari soal sosialisme TM, peristiwa kematiannya, perhatian pemerintah, hingga liku-liku riset penelitiannya. Berikut petikannya. 

Tentu saja sosialisme TM berbeda dengan Syahrir, tapi bagaimana Anda menjelaskan perbedaan praktik sosialisme Tan Malaka dengan Alimin, Darsono, Semaun, dan tokoh-tokoh komunis lainnya?

TM bisa dianggap sebagai orang yang taat pada Marxisme ortodoks sampai tahun 1927 ketika timbulnya pemberontakan komunis terhadap Belanda. Sejak itu ia memutus hubungan dengan Moskow karena ia tak setuju dengan sikap Moskow terhadap pemberontakan itu. Sebelumya tahun 1925 ia juga mendirikan partai sendiri, Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok Thailand. Partai kecil sekali dan tidak berkembang karena ia selalu diburu oleh polisi rahasia, karena itulah TM selalu memakai banyak nama samaran. Waktu ia kembali ke Indonesia yang diduduki Jepang, ia masih memakai nama samaran dan ketika itulah ia menulis buku Madilog. Dalam buku itu sudah jelas bagaimana ia punya pemikiran sendiri tentang sosialisme. Sosialisme yang bukan dogma tapi cara berpikir. Dengan menerapkan cara berpikir Barat ia ingin membawa pemikiran sosialisme ke Indonesia tapi dalam bentuk yang khusus, a la Indonesia di mana ada tempat untuk agama Islam yang sangat penting. Ia menekankan pentingnya kekuatan Islam untuk memperbarui masyarakat ke arah sosialisme. Saya kira inilah pemikiran orisinal TM bagi sejarah pemikiran politik di Indonesia.

Lalu bagaimana Anda melihat perbedaan sosialisme Tan Malaka itu dalam Madilog dengan Marhaesnisme Soekarno yang disebut-sebut juga sebagai sosialisme khas Indonesia?

Menurut Tan Malaka pemikiran Soekarno hanya merupakan campuran tanpa titik berat yang tetap. Dia sangat kritis pada Soekarno, juga pada ideloginya yang ia sebut sebagai borjuis kecil. Demikian juga pada politik praktis Soekarno. Tapi jika kita amati ada juga persamaan di antara keduanya, misalnya, dalam apa yang menjadi program politik Soekarno dengan Nasakom. Tan Malaka juga selalu menekankan kemestian kerjasama antara kaum agamawan (Islam) dan kaum sosialis. Soekarno juga mengambil inspirasi dari pikiran Marxis, tapi bentuknya khusus a la Indonesia dalam nuansa yang juga orisinal. Tapi saya kira, kalau melihat dari sudut teori, Tan Malaka lebih unggul dan lebih baik. Paling tidak, Soekarno tak pernah menulis buku dengan kualitas sebaik Madilog karya Tan Malaka. Itu buku yang sangat dalam.

Tahun 1925 di Bangkok TM mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari), padahak ketika indonesia belum ada apalagi Republik sebagai bentuk negara. Menurut Anda dari mana TM memiliki gagasan ihwal Indonesia sbg negara republik semacam itu?

Kita bisa merujuk pada tulisan TM  “Menuju Repulik Indonesia”. Tapi saya kira ini logis sekali karena bentuk negara kerajaan pasti ditolak TM. Dan ia pengikut teori Marxis yang mengajarkan perlunya republik rakyat. Dan susunan republik TM adalah republik rakyat.

Apakah dalam negara ideal TM itu hanya ada satu partai seperti diajarkan Marxisme?

Kita bisa amati hal ini ketika sesudah proklamasi, ketika TM menolak penetapan No X yang dikeluarkan Moh. Hatta,  yang memungkinkan tumbuhnya berbagai partai politik. Karena bagi TM, Indonesia ketika dalam situasi perjuangan, yang  jika ada partai maka perjuangan akan dilemahkan oleh kepentingan antar partai politik. Dan tentang susunan repulik rakyat saya kira TM adalah pengikut teori bahwa satu partai lebih baik. Dan karena itulah tahun 1946  ia mendirikan Persatoean Perjoeangan dan ini ingin mengumpulkan semua partai.
                                                           **
REFORMASI 1998 memang telah mengubah cara pandang negara terhadap sejarah. Termasuk pandangan pada TM. Sejak tahun 1998 mulai bermunculanlah buku-buku karya TM, termasuk Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Sebuah buku penting ihwal pandangan dan filosofi politik TM. Perubahan sikap inilah yang juga memudahkan Harry Poeze melakukan berbagai investigasi dan risetnya ihwal TM. Temuannya yang memastikan makam TM tahun 1986 mulai diangkat ke publik. Sejumlah pihak, termasuk Departemen Sosial, mulai menaruh perhatian. Termasuk dengan melakukan penggalian pada makam yang diduga makam TM tersebut dan memeriksa DNA-nya demi memastikan. DNA itu telah diperiksa di Labotarium di Korea Selatan.

Meski hasil pemeriksaan DNA itu terus mengalami penundaan karena kondisi kerangka, seperti disebut Tim Identifikasi Tan Malaka sebagai “kerangka tanpa DNA” atau kasus “body bog” , tapi Harry Poeze tetap meyakini bahwa kerangka itu adalah TM. Terlebih lagi dalam laporan tim ideintifikasi disebutkan dalam penggalian kerangka ditemukan dalam posisi kedua tangan yang bersilang ke belakang, seolah ia terikat ke belakang.

 “Waku saya temukan makam itu tidak dirawat, hanya ada batu. Kepastian menemukan makam itu dimungkinkan karena Tan Malaka adalah orang kedua yang dikuburkan di desa itu. Desa Selopanggung didirikan tahun 1930-an dan waktu itu semua penghuninya masih muda. Dan pendiri desan itu meninggal sebelum Tan malaka. Waktu Tan Malaka dikuburkan di desa itu baru ada satu kuburan. Pada tahun 1949 banyak beberapa penduduk masih ingat ada kuburan kedua, tanpa batu. Karena itulah, bisa diketahui bahwa itu adalam makam TM,” paparnya, seraya menambahkan jika benar itu adalah makam Tan Malaka maka sudah semestinya pemerintah memberi penghormatan padanya.

“Bisa memindahkan makamnya atau membuat monumen penghormatan di makamnya yang sekarang,” imbuh sejararawan dan peneliti sekaligus Direktur Penerbitan KITLV Belanda yang telah menjelajahi berbagai negara di 4 benua demi meneliti seorang Tan Malaka ini.    

Kalau semua fakta TM diangkat apakah ada keberatan-keberatan, misalnya, dari pihak militer sekarang sehubungan dengan kedekatan Panglima Besar Soedirman dan TM dalam Persatoean Perjoeangan tahun 1946?

Saya pikir tidak. Mungkin di masa Orba semua itu ditutupi. Tapi sekarang orang melihatnya sebagai perkara sejarah yang menyedihkan. Bisa disayangkan, tapi inilah yang terjadi semasa gerilya. Karena itulah saya berharap dengan penemuan makam TM ini juga agar ia bisa dimakamkan dengan layak dan diberi penghormatan terhadapnya/

Ini mungkin pertanyaan klise, menurut Anda apa sebenarnya makna TM bagi Indonesia hari ini?

Ya, saya sering menghadapi pertanyaan, apa gunanya Tan Malaka dalam kenyataan Indonesia sekarang. Saya kira, dia adalah contong paling penting tentang bagaimana seseorang bagaimana seseorang memperjuangkan nasib bangsa dan negaranya, dengan melalui berbagai penderitaan yang menyurutkan semangatnya.

Saya yakin Anda bukan seorang komunis, lalu bagaimana Anda dengan kritis memandang TM sebagai tokoh pergerakkan? 

Saya kira dalam memperjuangkan politik praktisnya dia dia seorang yang gagal. Dan ini mungkin karena sifat-sifat pribadinya. Tapi, juga karena bagi saya dia bukan seorang politisi. Ia sebenarnya adalah seorang guru dan ia mau memberi pentunjuk pada bangsa dan negara Indonesia untuk menjadi salah satu negara yang sejahtera dan sosialistis. Seandainya pun ia tak meninggal tahun 1949, saya kira tetaplah sulit baginya untuk mewujudkan cita-citanya. Meski ia seorang ahli pidato yang baik sekali.

Menurut Anda dia lebih cocok sebagai pemikir ketimbamg politisi, begitu?

Ya, seperti orang yang memberi nasehat di belakang layar. Sebagai politisi dia selalu gagal karena juga dia dilupakan. Dan kita tahu sejarah selalu ditulis oleh orang yang menang. Ironisnya TM tak pernah menang. 
Tapi bukankah Anda sempat juga mengatakan bahwa TM adalah seorang Che Guevara Asia?
Ya, malah Che Ghuevara itu Tan Malaka-nya Amerika! (tertawa). Saya melihat banyak mahasiswa di Indonesia mulai tertarik pada TM, dan membuat kaosnya. Tapi seperti pada Che Ghuevara, saya lihat  mereka lebih tertarik pada petualangannya ketimbang pada pemikiran TM.

Ngomong-ngomong, apakah Anda yang menemukan Harry Poeze atau Harry Poeze yang menemukan Anda?

(Tersenyum) TM dididik di Belanda sekolah guru, dan ini ia mendapat dukungan dari seorang guru Belanda, Horensma namanya. Dan waktu ia ditahan di Jawa karena menjadi ketua PKI dan organisator sekolah-sekolah sosialis,  ia menulis surat pada Horensma dan mengatakan “Walaupun warna kulit kita berbeda,  saya yakin bahwa rasa persamaan pada nilai-nilai demokrasi dan persabahatan kita bisa melampaui perbedaan warna kulit itu”. Nah, saya bayangkan, dan saya begitu juga TM berpikir tentang saya (tertawa). (Ahda Imran)**