MENYEBUT sejarah munculnya pergerakan komunisme
di Hindia Belanda tahun 1920-an, sangatlah tidak mungkin melewatkan nama Tan
Malaka (1897-1949). Akan terlalu panjang mengurai kiprah dan sepak terjang
tokoh pergerakan yang diselubungi berbagai misteri ini. Mulai dari petualangan
politiknya di berbagai negara Eropa dan Asia, kematiannya yang tragis, hingga
namanya yang dilupakan dan “diharamkan” selama 30 tahun oleh rezim yang
mencapnya sebagai seorang komunis. Padahal di mata PKI dan komunis
internasional (Komintern), sejak tahun 1927, TM dianggap sebagai murtad,
seorang Troskys (pengikut Trotsky yang jadi lawan Lenin dan Stalin) yang terus
diburu.
Meski
tahun 1963 Presiden RI Soekarno telah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional
melalui Kepres No. 53/ 1963. Revolusi kemerdekaan bukan hanya telah
memakan, tapi juga telah melupakan anaknya sendiri. Itulah yang terjadi pada
Tan Malaka (TM). TM seolah sebuah takdir ihwal kesetian seorang pemikir pejuang
yang terus dikalahkan, dilupakan, dan dipenuhi ironi.
TM
adalah sebuah ironi ketika ia dijebloskan ke dalam penjara oleh negara republik
yang diimpikannya. Begitu pula dengan kematiannya. Ia di tembak oleh sebuah
batalyon TNI di desa kecil Selopanggung Kab. Kediri Jatim tahun 1949 dalam
situasi krisis politik dan perbedaan garis perjuangan. Sejak itu orang hanya
tahu TM ditembak mati tapi tak pernah tahu, bahkan tak perduli, di mana
kuburnya.
Sejak
pertengahan tahun 1980-an, banyak orang di Indonesia dikagetkan oleh seorang
sejarawan dan peneliti Belanda yang begitu intens mengkaji jejak perjuangan TM,
Harry Poeze. Sejak tahun 1971 ia telah “jatuh hati” pada sosok TM. Tak hanya
skripsi bahkan juga desertasinya seluruhnya berpusat pada TM. Sampai hari ini
telah enam buku tebal yang ditulisnya ihwal TM, yang keseluruhannya berjumlah
2.200 halaman!
Rasanya,
tak ada sejarawan asing yang begitu intens menelaah dan meneliti seorang tokoh
Indonesia seperti Harry Poeze. Tidak juga Rudolf Mrazek yang menulis Sutan
Syahrir. Dari riset Harry Poeze yang berpuluh tahun inilah ditemukan sebuah
makam yang diduga keras sebagai makam TM, di Desa Selopanjang Kab. Kediri
Jatim. Seorang sejarawan Belanda yang puluhan tahun meneliti dan menemukan
makam TM, bukankah ini adalah sebuah ironi berikutnya?
Maka,
menyebut TM hari ini adalah menyebut Harry Poeze. Di matanya, TM adalah contoh
paling penting tentang bagaimana seseorang memperjuangkan nasib bangsa dan negaranya,
dengan melalui berbagai penderitaan yang tak menyurutkan semangatnya. Dalam
pandangannya, tokoh heroik Amerika Latin sekelas Che Ghuevara sekalipun
tidaklah bisa disejajarkan dengan TM.
“Tan
Malaka bukan “Che Ghuevara”-nya Asia. Tapi, justru Che Guevara adalah
“Tan Malaka”-nya Amerika”, ujar Harry Poeze dalam kunjungan ke Redaksi “PR”,
Kamis (5/1). Kedatangannya ke Bandung merupakan bagian diskusi buku terbarunya,
Madiun 1948, PKI Bergerak yang
berlangsung di kampus Unisba.
“Buku
ini hasil riset saya sepuluh tahun, jilid keenam yang keseluruhannya memaparkan
kiprah TM dan pergolakan yang ditimbulkan oleh partai komunis di Indonesia,”
ujar sejarawan kelahiran Groningen Negeri Belanda 20 Oktober 1947 ini dengan
bahasa Indonesia yang lancar.
Dalam
suasana silaturahmi bersama Pemred “PR” H. Budhyana, Redaktur Erwin Kustiman
dan Rachim Asyik Fajar, wawancara ini berlangsung. Mulai dari soal sosialisme
TM, peristiwa kematiannya, perhatian pemerintah, hingga liku-liku riset
penelitiannya. Berikut petikannya.
Tentu
saja sosialisme TM berbeda dengan Syahrir, tapi bagaimana Anda menjelaskan
perbedaan praktik sosialisme Tan Malaka dengan Alimin, Darsono, Semaun, dan
tokoh-tokoh komunis lainnya?
TM
bisa dianggap sebagai orang yang taat pada Marxisme ortodoks sampai tahun 1927
ketika timbulnya pemberontakan komunis terhadap Belanda. Sejak itu ia memutus
hubungan dengan Moskow karena ia tak setuju dengan sikap Moskow terhadap
pemberontakan itu. Sebelumya tahun 1925 ia juga mendirikan partai sendiri,
Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok Thailand. Partai kecil sekali dan
tidak berkembang karena ia selalu diburu oleh polisi rahasia, karena itulah TM
selalu memakai banyak nama samaran. Waktu ia kembali ke Indonesia yang diduduki
Jepang, ia masih memakai nama samaran dan ketika itulah ia menulis buku
Madilog. Dalam buku itu sudah jelas bagaimana ia punya pemikiran sendiri
tentang sosialisme. Sosialisme yang bukan dogma tapi cara berpikir. Dengan menerapkan
cara berpikir Barat ia ingin membawa pemikiran sosialisme ke Indonesia tapi
dalam bentuk yang khusus, a la Indonesia di mana ada tempat untuk agama Islam
yang sangat penting. Ia menekankan pentingnya kekuatan Islam untuk memperbarui
masyarakat ke arah sosialisme. Saya kira inilah pemikiran orisinal TM bagi
sejarah pemikiran politik di Indonesia.
Lalu
bagaimana Anda melihat perbedaan sosialisme Tan Malaka itu dalam Madilog dengan
Marhaesnisme Soekarno yang disebut-sebut juga sebagai sosialisme khas
Indonesia?
Menurut
Tan Malaka pemikiran Soekarno hanya merupakan campuran tanpa titik berat yang
tetap. Dia sangat kritis pada Soekarno, juga pada ideloginya yang ia sebut
sebagai borjuis kecil. Demikian juga pada politik praktis Soekarno. Tapi jika
kita amati ada juga persamaan di antara keduanya, misalnya, dalam apa yang
menjadi program politik Soekarno dengan Nasakom. Tan Malaka juga selalu
menekankan kemestian kerjasama antara kaum agamawan (Islam) dan kaum sosialis.
Soekarno juga mengambil inspirasi dari pikiran Marxis, tapi bentuknya khusus a
la Indonesia dalam nuansa yang juga orisinal. Tapi saya kira, kalau melihat
dari sudut teori, Tan Malaka lebih unggul dan lebih baik. Paling tidak,
Soekarno tak pernah menulis buku dengan kualitas sebaik Madilog karya Tan
Malaka. Itu buku yang sangat dalam.
Tahun
1925 di Bangkok TM mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari), padahak ketika
indonesia belum ada apalagi Republik sebagai bentuk negara. Menurut Anda dari
mana TM memiliki gagasan ihwal Indonesia sbg negara republik semacam itu?
Kita
bisa merujuk pada tulisan TM “Menuju Repulik Indonesia”. Tapi saya kira
ini logis sekali karena bentuk negara kerajaan pasti ditolak TM. Dan ia
pengikut teori Marxis yang mengajarkan perlunya republik rakyat. Dan susunan
republik TM adalah republik rakyat.
Apakah
dalam negara ideal TM itu hanya ada satu partai seperti diajarkan Marxisme?
Kita
bisa amati hal ini ketika sesudah proklamasi, ketika TM menolak penetapan No X
yang dikeluarkan Moh. Hatta, yang memungkinkan tumbuhnya berbagai partai
politik. Karena bagi TM, Indonesia ketika dalam situasi perjuangan, yang
jika ada partai maka perjuangan akan dilemahkan oleh kepentingan antar
partai politik. Dan tentang susunan repulik rakyat saya kira TM adalah pengikut
teori bahwa satu partai lebih baik. Dan karena itulah tahun 1946 ia
mendirikan Persatoean Perjoeangan dan
ini ingin mengumpulkan semua partai.
**
REFORMASI 1998 memang telah mengubah cara
pandang negara terhadap sejarah. Termasuk pandangan pada TM. Sejak tahun 1998
mulai bermunculanlah buku-buku karya TM, termasuk Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Sebuah buku penting
ihwal pandangan dan filosofi politik TM. Perubahan sikap inilah yang juga
memudahkan Harry Poeze melakukan berbagai investigasi dan risetnya ihwal TM.
Temuannya yang memastikan makam TM tahun 1986 mulai diangkat ke publik.
Sejumlah pihak, termasuk Departemen Sosial, mulai menaruh perhatian. Termasuk
dengan melakukan penggalian pada makam yang diduga makam TM tersebut dan
memeriksa DNA-nya demi memastikan. DNA itu telah diperiksa di Labotarium di
Korea Selatan.
Meski
hasil pemeriksaan DNA itu terus mengalami penundaan karena kondisi kerangka,
seperti disebut Tim Identifikasi Tan Malaka sebagai “kerangka tanpa DNA” atau
kasus “body bog” , tapi Harry Poeze tetap meyakini bahwa kerangka itu adalah
TM. Terlebih lagi dalam laporan tim ideintifikasi disebutkan dalam penggalian
kerangka ditemukan dalam posisi kedua tangan yang bersilang ke belakang, seolah
ia terikat ke belakang.
“Waku
saya temukan makam itu tidak dirawat, hanya ada batu. Kepastian menemukan makam
itu dimungkinkan karena Tan Malaka adalah orang kedua yang dikuburkan di desa itu.
Desa Selopanggung didirikan tahun 1930-an dan waktu itu semua penghuninya masih
muda. Dan pendiri desan itu meninggal sebelum Tan malaka. Waktu Tan Malaka
dikuburkan di desa itu baru ada satu kuburan. Pada tahun 1949 banyak beberapa
penduduk masih ingat ada kuburan kedua, tanpa batu. Karena itulah, bisa
diketahui bahwa itu adalam makam TM,” paparnya, seraya menambahkan jika benar
itu adalah makam Tan Malaka maka sudah semestinya pemerintah memberi
penghormatan padanya.
“Bisa
memindahkan makamnya atau membuat monumen penghormatan di makamnya yang
sekarang,” imbuh sejararawan dan peneliti sekaligus Direktur Penerbitan KITLV
Belanda yang telah menjelajahi berbagai negara di 4 benua demi meneliti seorang
Tan Malaka ini.
Kalau semua fakta TM diangkat apakah
ada keberatan-keberatan, misalnya, dari pihak militer sekarang sehubungan
dengan kedekatan Panglima Besar Soedirman dan TM dalam Persatoean Perjoeangan
tahun 1946?
Saya
pikir tidak. Mungkin di masa Orba semua itu ditutupi. Tapi sekarang orang
melihatnya sebagai perkara sejarah yang menyedihkan. Bisa disayangkan, tapi
inilah yang terjadi semasa gerilya. Karena itulah saya berharap dengan penemuan
makam TM ini juga agar ia bisa dimakamkan dengan layak dan diberi penghormatan
terhadapnya/
Ini
mungkin pertanyaan klise, menurut Anda apa sebenarnya makna TM bagi Indonesia
hari ini?
Ya,
saya sering menghadapi pertanyaan, apa gunanya Tan Malaka dalam kenyataan
Indonesia sekarang. Saya kira, dia adalah contong paling penting tentang
bagaimana seseorang bagaimana seseorang memperjuangkan nasib bangsa dan
negaranya, dengan melalui berbagai penderitaan yang menyurutkan semangatnya.
Saya
yakin Anda bukan seorang komunis, lalu bagaimana Anda dengan kritis memandang
TM sebagai tokoh pergerakkan?
Saya
kira dalam memperjuangkan politik praktisnya dia dia seorang yang gagal. Dan
ini mungkin karena sifat-sifat pribadinya. Tapi, juga karena bagi saya dia
bukan seorang politisi. Ia sebenarnya adalah seorang guru dan ia mau memberi
pentunjuk pada bangsa dan negara Indonesia untuk menjadi salah satu negara yang
sejahtera dan sosialistis. Seandainya pun ia tak meninggal tahun 1949, saya
kira tetaplah sulit baginya untuk mewujudkan cita-citanya. Meski ia seorang
ahli pidato yang baik sekali.
Menurut
Anda dia lebih cocok sebagai pemikir ketimbamg politisi, begitu?
Ya,
seperti orang yang memberi nasehat di belakang layar. Sebagai politisi dia
selalu gagal karena juga dia dilupakan. Dan kita tahu sejarah selalu ditulis
oleh orang yang menang. Ironisnya TM tak pernah menang.
Tapi
bukankah Anda sempat juga mengatakan bahwa TM adalah seorang Che Guevara Asia?
Ya,
malah Che Ghuevara itu Tan Malaka-nya Amerika! (tertawa). Saya melihat banyak
mahasiswa di Indonesia mulai tertarik pada TM, dan membuat kaosnya. Tapi
seperti pada Che Ghuevara, saya lihat mereka lebih tertarik pada
petualangannya ketimbang pada pemikiran TM.
Ngomong-ngomong,
apakah Anda yang menemukan Harry Poeze atau Harry Poeze yang menemukan Anda?
(Tersenyum)
TM dididik di Belanda sekolah guru, dan ini ia mendapat dukungan dari seorang
guru Belanda, Horensma namanya. Dan waktu ia ditahan di Jawa karena menjadi
ketua PKI dan organisator sekolah-sekolah sosialis, ia menulis surat pada
Horensma dan mengatakan “Walaupun warna kulit kita berbeda, saya yakin bahwa
rasa persamaan pada nilai-nilai demokrasi dan persabahatan kita bisa melampaui
perbedaan warna kulit itu”. Nah, saya bayangkan, dan saya begitu juga TM
berpikir tentang saya (tertawa). (Ahda
Imran)**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar