Selasa, 23 Juli 2013
Left Thinking: Madilog dan Teori Politik Tan Malaka
Left Thinking: Madilog dan Teori Politik Tan Malaka: Ilustrasi teori politik Berbagai macam teori politik modern berkembang saat ini. Teori politik pada umumnya tidak bisa dipastikan...
Rabu, 17 Juli 2013
Sejarah Filsafat Klasik
1.
Filsafat Yunani
Para
sarjana filsafat mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti
menyaksikan kelahiran filsafat. Karena itu tidak ada pengantar filsafat yang
lebih ideal dari pada study perkembangan pemikiran filsafat di negeri Yunani. Alfred
Whitehead mengatakan tentang Plato: "All Western phylosophy is but a
series of footnotes to Plato". Pada Plato dan filsafat Yunani umumnya
dijumpai problem filsafat yang masih dipersoalkan sampai hari ini. Tema-tema
filsafat Yunani seperti ada, menjadi, substansi, ruang, waktu, kebenaran, jiwa,
pengenalan, Allah dan dunia merupakan tema-tema bagi filsafat seluruhnya.
Filsuf-
Filsuf Pertama
Ada
tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximenes.
Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan kejadian-kejadian
alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang terus menerus di alam.
Mereka mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang
perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya itu. Thales mengatakan bahwa
prinsip itu adalah air, Anaximandros berpendapat to apeiron atau yang tak
terbatas sedangkan Anaximenes menunjuk udara.
Thales
juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros
mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama
terhadap semua badan yang lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua
makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yang pertama adalah ikan. Dan
manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan
sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan
jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di
dalam tubuh manusia.
Filosof
berikutnya yang perlu diperkenalkan adalah Pythagoras. Ajaran-ajarannya yang
pokok adalah pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian
manusia, jiwa pindah ke dalam hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah
lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari
reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari
tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan dengan bilangan-bilangan,
Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum matematis.
Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Ketiga mengenai kosmos,
Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagat raya bukanlah bumi
melainkan Hestia (Api), sebagaimana perapian merupakan pusat dari sebuah rumah.
Pada
jaman Pythagoras ada Herakleitos Di kota Ephesos dan menyatakan bahwa api
sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api
menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya
sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di dalam dunia
alamiah tidak sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu yang ada sedang menjadi.
Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai uden menei" yang artinya
semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap. Filosof pertama
yang disebut sebagai peletak dasar metafisika adalah Parmenides. Parmenides
berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada tidak ada. Konsekuensi dari
pernyataan ini adalah yang ada 1) satu dan tidak terbagi, 2) kekal, tidak
mungkin ada perubahan, 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya,
4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim
Herakleitos.
Para
filsuf tersebut dikenal sebagai filsuf monisme yaitu pendirian bahwa realitas
seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja. Para Filsuf
berikut ini dikenal sebagai filsuf pluralis, karena pandangannya yang
menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Empedokles menyatakan
bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu api, udara, tanah dan
air. Perubahan-perubahan yang terjadi di alam dikendalikan oleh dua prinsip
yaitu cinta (Philotes) dan benci (Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa
pengenalan (manusia) berdasarkan prinsip yang sama mengenal yang sama. Pluralis
yang berikutnya adalah Anaxagoras, yang mengatakan bahwa realitas adalah
terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles
yang mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti
api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat
dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging.
Perubahan
yang membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus
yang berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus
mengenal serta mengusai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan
sebagai filsuf pertama yang membedakan antara "yang ruhani" dan
"yang jasmani". Pluralis Leukippos dan Demokritos juga disebut
sebagai filsuf atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak
unsur yang tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini
disebut atomos. Lebih lanjut dikatakan bahwa atom-atom dibedakan melalui tiga
cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti AN dan NA) dan posisinya (seperti N
dan Z). Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana
pandangan Parmenides atom-atom tidak dijadikan dan kekal.
Tetapi
Leukippos dan Demokritos menerima ruang kosong sehingga memungkinkan adanya
gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari
dua hal: yang penuh yaitu atom-atom dan yang kosong. Menurut Demokritos jiwa
juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain
sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola
(gambaran-gambaran kecil yang terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti
benda itu). Eidola ini masuk ke dalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa
yang juga terdiri dari atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yang manis, panas,
dingin dan sebagainya, semua hanya berkuantitatif belaka. Atom jiwa bersentuhan
dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat
menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi
menyebabkan rasa panas, dan seterusnya.
Madilog dan Teori Politik Tan Malaka
Ilustrasi teori politik
Berbagai
macam teori politik modern berkembang saat ini. Teori politik pada umumnya
tidak bisa dipastikan menjadi satu kesatuan yang tetap. Seorang individu atau
kelompok depat menetukan teori politiknya sendiri, sesuai dengan kondisi sosial
yang sedang berkembang tentunya.
Perihal
mengenai politik pasti menjadi perbincangan yang menarik dari sebuah negara.
Politik selalu erat dengan pemikiran seseorang yang pada akhirnya berpengaruh
terhadap kehidupan sosial di sekitarnya. Teori politik pun menjadi semacam
pembenaran ketika melakukan sesuatu yang dianggapnya benar.
Teori
politik sendiri sebenarnya memiliki dua makna. Bergantung dari mana orang
tersebut memandang politik itu sendiri. Pengertian teori politik yang pertama
adalah teori politik sebagai hasil pemikiran bersifat spekulatif mengenai
pengaturan masyarakat dan aturan-aturan di sekitar masyarakat yang ideal.
Berbeda
dengan pengertian teori politik yang kedua. Teori politik yang kedua cenderung
lebih bersifat ilmiah. Teori politik dipandang sebagai suatu kajian yang
sistematis, terarah dan terkendali yang berkenaan dengan segala kegiatan
bermasyarakat.
Kedua
pengertian dari teori politik in kemudian secara tidak langsung menimbulkan dua
pandangan yang berbeda. Para pemikir pun sibuk mengelompokkan pendapat mereka
tentang apa itu politik. Termasuk para pemikir Indonesia yang mengabdikan
hidupnya untuk hal yang cukup rumit ini.
Mengapa
rumit? Rasanya semua orang akan setuju jika politik merupakan hal yang cukup
rumit. Dari dua persepsi yang berbeda tentang teori politik saja bisa dapat
dipastikan bahwa politik akan menimbulkan polemik khasnya. Perbedaan pendapat
bahkan sudah mendasari dan melatarbelakangi terciptakan politik di masyarakar.
Pergolakan
yang mengatasnamakan politik tidak pernah habis dibahas. Selalu akan ada
permasalahan baru yang erat kaitannya dengan hal yang satu itu. Teori politik
yang dikeluarkan oleh para orang pintar itu kemudian menjadi semacam tameng.
Tameng untuk melindungi dirinya, pemikirannya, dan orang-orang yang berada di
pihaknya. Istilah seperti konspirasi merupakan salah satu penggambaran jelas
tentang ini semua.
Bagaimanapun
keadaannya, teori politik akan tetap menjadi sebuah teori, yang tidak akan
lengkap tanpa praktik. Praktiknya adalah benar-benar menjalankan apa yang ideal
untuk masyarakat. Jika tidak, spekulasi tentang teori politik ini akan terus
berlanjut hingga entah kapan.
Salah
satu teori politik pada zamannya yang saat itu menjadi pembicaraan adalah Tan
Malaka. Indonesia memiliki sesosok pemikir yang kritis dalam memandang
kehidupan politik di Indoensia. Teori politiknya yang liar, sempat dianggap
sebagai "penganggu".
Teori Politik Tan Malaka –
Perjalanan Politik Tan Malaka
Sosok
dibalik teori politik “khusus” ini adalah Tan Malaka. Tan Malaka merupakan pria
kelahiran Desa Nagari Pandam Gada, Sumatera Barat 19 Februari 1896. Perjalanan
politiknya dimulai pada 1921. Aliran teori politiknya adalah sosialis. Tapi
sosialis yang berbeda dengan yang lainnya. Hal ini terlihat saat ia pernah berselisih
dengan partai komunis Indonesia yang juga beraliran sosialis.
Teori
politik yang dianutnya ditunjukkan dengan mendirikan sebuah partai bernama
Partai Muba. Semua itu terjadi begitu saja, dan ketika ia melihat sebuah
perlakukan sosial yang tidak adil pada masyarakat saat menjadi guru di daerah
Kiprah
politiknya dimulai adalah saat ia bertemu Semaun, salah satu tokoh politik.
Mereka merencanakan gerakan yang ingin menjungkalkan pemerintah Hindia Belanda
yang saat itu sewenang-wenang dan berkuasa. Bukti nyata yang tersaji saat itu
adalah perlakuan tidak adil antara tuan tanah dan para pekerjanya. Teori
politik yang dianut oleh Tan Malaka ini tentu saja ditentang oleh pihak
Belanda.
Bersama
Semaun, Tan Malaka yang punya pengalaman sebagai seorang pendidik, berniat
untuk mendidik kaum muda yang tergabung dalam serikat Islam pada saat itu. Tan
Malaka berpikiran bahwa melalui ilmu-ilmu belajar, teori politik yang dia
percayai bisa ikut diamini oleh kaum muda.
Ilmu-ilmu
yang akan dibagi pada saat itu adalah tentang aliran, dan ajaran politik
komunis, kegiatan jurnalistik, tapi hal tersebut mendapat tentangan dari
pemerintah Hinda Belanda yang saat itu berkuasa. Tapi Tan Malaka tidak menyerah
saat itu. Ia tetap kukuh dengan apa yang akan dilakukannya. Ia tetap memegang
teguh teori politik yang dianggapnya ideal tersebut.
Selain
mengajar, untuk memberikan gambaran teori politik, Tan Malaka tetap melakukan
gerakan-gerakan sosial yang berlandaskan adanya ketidakadilan di antara
penguasa yang kapitalis dengan kesengsaraan buruh. Keseriusan Tan Malaka dalam
hal-hal yang berkaitan dengan sosialis dan komunis. Hal ini terbukti, ketika ia
ikut menyuarakan hak dan suaranya dalam kongres-kongres komunis di Moskow, Uni
Soviet.
Peristiwa
pemberontakan yang terjadi pada 1926, memaksa Tan Malaka untuk kembali pulang
ke Indonesia, akibat ia tangkapnya beberapa pejuang-pejuang politik pada saat
itu. Akhirnya, Tan Malaka dengan beberapa temannya berjuang lagi dari bawah dan
membuat Partai Republik Indonesia, untuk kembali memperjuangkan Indonesia
sesuai dengan apa yang diinginkannya. Meskipun teori politik yang dianutnya
membuat ia kesusahan, Tan Malaka tetap tidak menyerah.
Teori Politik Tan Malaka dan
Ajaran Madilog
Hal
yang paling diingat dari teori politik Tan Malaka adalah ajaran Madilog.
Madilog dikembangkan karena ajaran tersebut menggabungkan sebuah kajian ilmu
yang sudah diterapkan dan disesuaikan dengan keadaan serta budaya di Indonesia.
Dengan
"Madilog", ini Tan Malaka juga ingin membawa republik Indonesia ke
tingkatan yang lebih baik. Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah sebuah bukti
nyata atau fakta-fakta yang telah terjadi selama ini. Sementara idealisme yang
diusung oleh Tan Malaka adalah sikap seseorang, pikiran, serta kesatuan yang
terwujud. Teori politik yang dianutnya dirasa pas dengan ajaran-ajaran dari
Madilog.
Sifat
seperti ini memang sudah dialami Tan Malaka saat ia melihat penindasan yang
semena-semena, antara pemerintah Hindia Belanda terhadap orang-orang di
Indonesia, pada saat itu. Hal itu dilakukannya terus, termasuk saat transisi
setelah Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya pada 1945. Teori politik yang
dianutnya itu menjadi pegangan Tan Malaka dalam bertindak.
Kegiatan
dan ajaran Madilognya tersebut membuat ia menjadi sosok yang dianggap
pengganggu. Tan Malaka pernah ditangkap pada 1946 akibat teori politiknya. Tapi
dibebaskan, ketika terjadi pemberontakan PKI pada 1948. Peristiwa pemberontakan
yang dilakukan PKI beriringan dengan apa yang terjadi pada saat transisi
kemerdekaan Republik Indonesia, serta beberapa peristiwa lainnya seperti
Perjanjian Linggarjati, serta Perundingan Renville.
Teori Politik Tan Malaka –
Menghilangnya Seorang Tan Malaka
Dengan
situasi yang tidak terkendali pada saat itu, Tan Malaka mendirikan partai baru
yang diberi nama Murba dan masih menyandang teori politiknya yang madilog. Di
masa transisi dengan keadaan yang tak terkendali, Tan Malaka seperti menghilang
begitu saja.
Berbagai
cerita dan versi mengatakan bahwa Tan Malaka meninggal saat memperjuangkan
teori politiknya dari satu ke tempat lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa ia
ditembak mati oleh pihak militer yang mengatakan bahwa Tan Malaka adalah
"ancaman" tersendiri. Apa pun versi menghilangnya seorang Tan Malaka,
ia tetaplah seorang pahlawan.
Hal itu
bisa dilihat dari caranya memandang sesuatu permasalahan dan mengatasi
permasalahan, dimulai dari berkuasanya pemerintah Hindia Belanda, sampai pada
saat transisi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Teori politik Madilognya akan
selalu dijadikan sebagai bahan kajian ilmu politik yang terus berkembang hingga
saat ini.
MADILOGnya Tan Malaka
Dan
mereka berkata : "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia
saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain
masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu,
mereka tidak lain hanalah menduga-duga saja (QS 45:24).
Dalam
dunia kayal (imajinasi, fantasi) Tan Malaka, berdasarkan teori-hukum Dialektika
Materialis (MADILOG)nya, maka perarungan antara klas yang berpunya danklas yang
tak berpunya akan berakhir dengan kemenangan klas yang tak berpunya. Dalam
kayalnya, klas yang takberpunya itu adalahklas yang kuat, sedangkan klas yang
berpunya itu adalah klas yang lemah, maka dalam pertarungan, yang lemah kalah,
yang kuat menang. Dalam dunia kayal bisa terjadi seperti itu. Tapi dalam dunia
nyata (realita), teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG) adalah omong
kosong belaka. Bahkan berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG)
sendiri tak pernah ditemukan, dijumpaibukti dalam dunia nyata, bahwa yang tak
erpunya bisa mengalahkan yang berpunya. Juga berdasarkan teori-hukum Dialektika
Materialis (MADILOG), maka pertarungan itu takpernah berakhir. Tarik menarik
antara proton positip dan elektron negatip takpernah berakhir. Akhir suatu
pertarungan adalah awal pertarungan berikutnya. Pertarungan tak pernah
berakhir.Tak ada yang berhenti, semuanya bergerak terus menerus. Berakhirnya
pertarungan adalah berakhirnya gerak, tammatnyadunia. Tammatnya dunia
bertentangan sekaligus bersesuaian dengan Dialektika Mterialis (MADILOG).
MADILOGnya
Tan Malaka tak pernah dapat perhatian dan sambutan dari siapa pun. Tak ada
literatur yang mendukung, mengulas, menafsirkan MADILOGnya Tan Malaka daripara
proletar, Murba, Komunis. Anjuga tak ada literatur yang mengecam,menantang,
mengkritik MADILOGnya Tan Malaka dari para borjuis, Kapitalis.
Salaha
atu keahlian Tan Malaka dengan Dialektika-Materialis (MADILOG)nyaadalah
kejeniusannya membungkus, mengemas teori (kayal)nya sehingga sepintas tamapak
terlihat nyata dalamrealita dengan bukti-buktiilmiah. Tan Malaka sangat lancar
(bertele-tele) mengangkat bukti-bukti ilmiah untuk memenangkan klas yang tak
berpunya atas klas yang berpunya. Tapi tak pernah menampilkan bukti nyata atas
keberpihakkannya pda klas yang tak berpunya dalam realita, dalam praktek, bukan
dalam dunia teori (kayal). Asas program, pidato, karangan, propaganda dan
agitasi yang nyata (dalam kayal Tan Malaka) gagl mempersatukan seluruh yang tak
punya. Tan Malaka tetapsaja berada di awang-awang idealis, tak berpijak pada
bumi realis.
Para
ahli diharapkan dapat menyusun sanggahan/sangkalan (bab per bab, pasal per
pasal, paragraf per paragraf, alinea per alinea) untuk meluruskan, membetulkan,
mengoreksi seluruh teori, ajaran, pseudo ilmiah yang sesat mnysatkan. Tan
Malaka sejak dari awal sampai akhir MADILOGnya secara licin/licik (rekayasa
logis-rasional) menggiring pembacanya ke arah atheis, menolak, menyangkal
"kun fa yakun", mengembalikan semuanya pada serba benda (materialis),
barang mati (anorganik), tanpa nyawa, tanpa jiwa, tanpa hati, tanpa prasaan
(brain, hart, intellect, mind, ratio, reason, sense, soul, spirit), yang hanya
bisa diserap/dicerap oleh panca indra. Tan Malaka gagal menjelaskan prbedaan
antara sel/atom kayu bakar dengan sel/atom pohon beringin.
Ahli
Ilmu Alam benda mti (Ilmu Bukti) murni mempelajari aktivitas alam dunia dan
mencari hukum-hukum tentang aktivitas alama dunia itu saja, tidak memasuki
wilayah ketuhanan (theologi), alam akhirat. Ahli Filsafat dikatakan terbagi
dua. Pertama, Ahli Filsafat Idealis berfikir secara abstrak, tidak berdasarkan
benda. Kedua, Ahli Filsafat Materialis berfikir secara konkrit, berdasarkan
benda mati (materialis(. Yang merasa diri sebgai Ahli Filsafat Materialis
semacam Tan Malaka sangat bernafsu menggunakan hasil temuan Ahli Ilmu Alam
benda mati (Ilmu Bukti) untuk menyangkal, menolak, mengingkari adanya Tuhan
Yang Mah Esa, alam akhirat.
Tan
Malaka mengisahkan bahwa Tan Malaka kecil/muda lahir dalam keluarga Islam yang
taat. Diantara keluarganya adalah seoang alim ulama yang dianggap keramat.
Kedua Ibu Bapaknya taat dan takut kepada Allah dan menjalankan suruhan Nabi.Tan
Malaka kecil sudah bisa menafsirkan alQur:an dan dijadikan guru muda (asisten).
Matanya basah ketika mendengarkan cerita kepiatuan Muhammad bin Abdullah. Ia
menghapal dalam bahasa Arab dan Belanda. Ia menganggap bahasa Arab sempurna,
kaya, merdu, jitu dan mulia. Ia menammatkan terjemahan alQur:an dalam bahasa
Belanda bebrapa kali. Ia membaca tentang Islam dari Snouck Hurgronya, Sales, Maulana
Mohammad Ali. Namun Tan Malaka dewasa mempertanyakan, mempermasalahkan,
mempersoalkan : Dimanakah tempatnya nerakaitu ? Apa bahaya apineraka yang
menyala terus menerus itu ? Bagaimana bisa mayat-mayat yang sudah hancur luluh
dan lebur itu digenap bulatkan kembali ? Bagaimana bisa Tuhan Yang Maha Kasih
itu sampai hati melihat makhluk yang dijadikanNya itu berteriak-teriak
menjerit-jerit dimakan api neraka yang maha panas itu ? Setelah mempelajari,
merenungkan, menyaksikan, mengetahui Alam Terkembang, mka dalam otak, benak,
tengkorak Tan Malaka bersarang tersimpul, terlihat bahwa semuanya itu hanyalah
benda anorganik belaka, takada alam akhirat, tak ada Tuhan. MADILOGnya Tan
Malaka berupaya meyakinkan untuk mengakui bahwa yang pantas diagungkan, dikagumi,
diperingati adalah keributan tahun 1926 yang dipengaruhi PKI, dan pemimpin PKI
semacam Dahlan, AliArcham, Haji Misbah, Sugono, Dirja, dan lain-lain. Bagaimana
pun pintarnya bersilat lidah, menjungkir-balikkan kebenaran dengan MADILOG
(Materialis, Dialektika, Logika), namun Tan Malaka tak pernah dikenal sebagai
sosok yang jujur, yang omongannya bisa dipercaya, yang setia menyantuni para
proletar.
Orang-orang
komunis beranggapan bahwa kebenaran abadi yang tidak dapat diragukan, yang
tidak dapat diperdebatkan adalah "Dialektika Materialisme" (Muhammad
Quthub : "Jawaban Terhadap alam Fikiran Barat Yang Keliru Tentang
Al-Islam", 1981:42).
Logika
Aristoteles "ORGANON" (alat untuk mencapai kebenaran) sampai sekarang
masih dipandang tahan dari kritik-kritik (Drs M Umar, dkk : "Fiqih-Ushul
Fiqih-Mantiq", I, 1984/1985:104).
Orang-orang
atheis mencoba memungkiri adanya Tuhan, merasakan dirinya diadakan oleh alam
secara kebetulan. Mereka terus mencoba mempengaruhi manusia untuk mempercayai
adanya hidup tanapa adanya Tuhan. Tetapi teori evolusi Darwin tentang hidup
membuktikan bahwa hidup muncul tanpa Tuhan itu adalah pengakuan yang
bertentangana dengan fitrah manusia itu sendiri. Fitrah manusia mengakui,
mengmani adanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa (Sayyid Quthub : "Tafsir
Dibawah naungan alQur:an", II, 1985:84).
Imam
alGhazali mengelompokkan ahali-ahli filsafat ke dalam tiga golongan : Pertama,
Golongan Dahri (Filsafat skepstis, atheis, materialis, eksistensialis, zindiq),
yaitu yang p3ercaya kepada keabadian dari pada benda (Hukum Kekekalan Massa dan
Hukum Kekekalan Energi) dan menolak meyakini adanya Yang maha Pencipta
(generatio spontanae). Kedua, Golongan Thabi’I (Filsafat Naturalis) yaitu yang
percaya terhadap Yang Maha Pencipta, tapi berfikir bahwa jiwa manusia itu
ketika berpisah dari pada tubuh kasar juga ikut mati dan oleh sebab itu tidak
ada perhitungan mengenai tindak-tanduk manusia. Ketiga, Golongan Ilahi
(Filsafat Deis), yaitu yang percaya kepada Tuhan (Imam alGhazali :
"Pembebas Dari Kesesatan", 1986:21-23, Sayid Amir Ali : "Ilham
Islam", 259-260).
Sebagian
pertanyaan yang mungkin bersarang di benak, di otak orang-orang semacam Tan
Malaka, dapat disimak antara lain dalam Mingguan PERTAHANAN ISLAM, Fort de Kock
(Bukittinggi, Sumatera Barat), No.1, Tahun ke-I, 15 Maret 1939, hal 14-19.
Sedangkan jawabannya, dapat ditemukan antara lain dalam "Islam &
Wetenschap" (Islam dan Sains Modern), I-III, 1938, terbitan Boekhandel
KAHAMY, Fort de Kock Bukittinggi, Sumatera Barat.
Harry Poeze dan Ironi Tan Malaka
MENYEBUT sejarah munculnya pergerakan komunisme
di Hindia Belanda tahun 1920-an, sangatlah tidak mungkin melewatkan nama Tan
Malaka (1897-1949). Akan terlalu panjang mengurai kiprah dan sepak terjang
tokoh pergerakan yang diselubungi berbagai misteri ini. Mulai dari petualangan
politiknya di berbagai negara Eropa dan Asia, kematiannya yang tragis, hingga
namanya yang dilupakan dan “diharamkan” selama 30 tahun oleh rezim yang
mencapnya sebagai seorang komunis. Padahal di mata PKI dan komunis
internasional (Komintern), sejak tahun 1927, TM dianggap sebagai murtad,
seorang Troskys (pengikut Trotsky yang jadi lawan Lenin dan Stalin) yang terus
diburu.
Meski
tahun 1963 Presiden RI Soekarno telah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional
melalui Kepres No. 53/ 1963. Revolusi kemerdekaan bukan hanya telah
memakan, tapi juga telah melupakan anaknya sendiri. Itulah yang terjadi pada
Tan Malaka (TM). TM seolah sebuah takdir ihwal kesetian seorang pemikir pejuang
yang terus dikalahkan, dilupakan, dan dipenuhi ironi.
TM
adalah sebuah ironi ketika ia dijebloskan ke dalam penjara oleh negara republik
yang diimpikannya. Begitu pula dengan kematiannya. Ia di tembak oleh sebuah
batalyon TNI di desa kecil Selopanggung Kab. Kediri Jatim tahun 1949 dalam
situasi krisis politik dan perbedaan garis perjuangan. Sejak itu orang hanya
tahu TM ditembak mati tapi tak pernah tahu, bahkan tak perduli, di mana
kuburnya.
Sejak
pertengahan tahun 1980-an, banyak orang di Indonesia dikagetkan oleh seorang
sejarawan dan peneliti Belanda yang begitu intens mengkaji jejak perjuangan TM,
Harry Poeze. Sejak tahun 1971 ia telah “jatuh hati” pada sosok TM. Tak hanya
skripsi bahkan juga desertasinya seluruhnya berpusat pada TM. Sampai hari ini
telah enam buku tebal yang ditulisnya ihwal TM, yang keseluruhannya berjumlah
2.200 halaman!
Rasanya,
tak ada sejarawan asing yang begitu intens menelaah dan meneliti seorang tokoh
Indonesia seperti Harry Poeze. Tidak juga Rudolf Mrazek yang menulis Sutan
Syahrir. Dari riset Harry Poeze yang berpuluh tahun inilah ditemukan sebuah
makam yang diduga keras sebagai makam TM, di Desa Selopanjang Kab. Kediri
Jatim. Seorang sejarawan Belanda yang puluhan tahun meneliti dan menemukan
makam TM, bukankah ini adalah sebuah ironi berikutnya?
Maka,
menyebut TM hari ini adalah menyebut Harry Poeze. Di matanya, TM adalah contoh
paling penting tentang bagaimana seseorang memperjuangkan nasib bangsa dan negaranya,
dengan melalui berbagai penderitaan yang tak menyurutkan semangatnya. Dalam
pandangannya, tokoh heroik Amerika Latin sekelas Che Ghuevara sekalipun
tidaklah bisa disejajarkan dengan TM.
“Tan
Malaka bukan “Che Ghuevara”-nya Asia. Tapi, justru Che Guevara adalah
“Tan Malaka”-nya Amerika”, ujar Harry Poeze dalam kunjungan ke Redaksi “PR”,
Kamis (5/1). Kedatangannya ke Bandung merupakan bagian diskusi buku terbarunya,
Madiun 1948, PKI Bergerak yang
berlangsung di kampus Unisba.
“Buku
ini hasil riset saya sepuluh tahun, jilid keenam yang keseluruhannya memaparkan
kiprah TM dan pergolakan yang ditimbulkan oleh partai komunis di Indonesia,”
ujar sejarawan kelahiran Groningen Negeri Belanda 20 Oktober 1947 ini dengan
bahasa Indonesia yang lancar.
Dalam
suasana silaturahmi bersama Pemred “PR” H. Budhyana, Redaktur Erwin Kustiman
dan Rachim Asyik Fajar, wawancara ini berlangsung. Mulai dari soal sosialisme
TM, peristiwa kematiannya, perhatian pemerintah, hingga liku-liku riset
penelitiannya. Berikut petikannya.
Tentu
saja sosialisme TM berbeda dengan Syahrir, tapi bagaimana Anda menjelaskan
perbedaan praktik sosialisme Tan Malaka dengan Alimin, Darsono, Semaun, dan
tokoh-tokoh komunis lainnya?
TM
bisa dianggap sebagai orang yang taat pada Marxisme ortodoks sampai tahun 1927
ketika timbulnya pemberontakan komunis terhadap Belanda. Sejak itu ia memutus
hubungan dengan Moskow karena ia tak setuju dengan sikap Moskow terhadap
pemberontakan itu. Sebelumya tahun 1925 ia juga mendirikan partai sendiri,
Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok Thailand. Partai kecil sekali dan
tidak berkembang karena ia selalu diburu oleh polisi rahasia, karena itulah TM
selalu memakai banyak nama samaran. Waktu ia kembali ke Indonesia yang diduduki
Jepang, ia masih memakai nama samaran dan ketika itulah ia menulis buku
Madilog. Dalam buku itu sudah jelas bagaimana ia punya pemikiran sendiri
tentang sosialisme. Sosialisme yang bukan dogma tapi cara berpikir. Dengan menerapkan
cara berpikir Barat ia ingin membawa pemikiran sosialisme ke Indonesia tapi
dalam bentuk yang khusus, a la Indonesia di mana ada tempat untuk agama Islam
yang sangat penting. Ia menekankan pentingnya kekuatan Islam untuk memperbarui
masyarakat ke arah sosialisme. Saya kira inilah pemikiran orisinal TM bagi
sejarah pemikiran politik di Indonesia.
Lalu
bagaimana Anda melihat perbedaan sosialisme Tan Malaka itu dalam Madilog dengan
Marhaesnisme Soekarno yang disebut-sebut juga sebagai sosialisme khas
Indonesia?
Menurut
Tan Malaka pemikiran Soekarno hanya merupakan campuran tanpa titik berat yang
tetap. Dia sangat kritis pada Soekarno, juga pada ideloginya yang ia sebut
sebagai borjuis kecil. Demikian juga pada politik praktis Soekarno. Tapi jika
kita amati ada juga persamaan di antara keduanya, misalnya, dalam apa yang
menjadi program politik Soekarno dengan Nasakom. Tan Malaka juga selalu
menekankan kemestian kerjasama antara kaum agamawan (Islam) dan kaum sosialis.
Soekarno juga mengambil inspirasi dari pikiran Marxis, tapi bentuknya khusus a
la Indonesia dalam nuansa yang juga orisinal. Tapi saya kira, kalau melihat
dari sudut teori, Tan Malaka lebih unggul dan lebih baik. Paling tidak,
Soekarno tak pernah menulis buku dengan kualitas sebaik Madilog karya Tan
Malaka. Itu buku yang sangat dalam.
Tahun
1925 di Bangkok TM mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari), padahak ketika
indonesia belum ada apalagi Republik sebagai bentuk negara. Menurut Anda dari
mana TM memiliki gagasan ihwal Indonesia sbg negara republik semacam itu?
Kita
bisa merujuk pada tulisan TM “Menuju Repulik Indonesia”. Tapi saya kira
ini logis sekali karena bentuk negara kerajaan pasti ditolak TM. Dan ia
pengikut teori Marxis yang mengajarkan perlunya republik rakyat. Dan susunan
republik TM adalah republik rakyat.
Apakah
dalam negara ideal TM itu hanya ada satu partai seperti diajarkan Marxisme?
Kita
bisa amati hal ini ketika sesudah proklamasi, ketika TM menolak penetapan No X
yang dikeluarkan Moh. Hatta, yang memungkinkan tumbuhnya berbagai partai
politik. Karena bagi TM, Indonesia ketika dalam situasi perjuangan, yang
jika ada partai maka perjuangan akan dilemahkan oleh kepentingan antar
partai politik. Dan tentang susunan repulik rakyat saya kira TM adalah pengikut
teori bahwa satu partai lebih baik. Dan karena itulah tahun 1946 ia
mendirikan Persatoean Perjoeangan dan
ini ingin mengumpulkan semua partai.
**
REFORMASI 1998 memang telah mengubah cara
pandang negara terhadap sejarah. Termasuk pandangan pada TM. Sejak tahun 1998
mulai bermunculanlah buku-buku karya TM, termasuk Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Sebuah buku penting
ihwal pandangan dan filosofi politik TM. Perubahan sikap inilah yang juga
memudahkan Harry Poeze melakukan berbagai investigasi dan risetnya ihwal TM.
Temuannya yang memastikan makam TM tahun 1986 mulai diangkat ke publik.
Sejumlah pihak, termasuk Departemen Sosial, mulai menaruh perhatian. Termasuk
dengan melakukan penggalian pada makam yang diduga makam TM tersebut dan
memeriksa DNA-nya demi memastikan. DNA itu telah diperiksa di Labotarium di
Korea Selatan.
Meski
hasil pemeriksaan DNA itu terus mengalami penundaan karena kondisi kerangka,
seperti disebut Tim Identifikasi Tan Malaka sebagai “kerangka tanpa DNA” atau
kasus “body bog” , tapi Harry Poeze tetap meyakini bahwa kerangka itu adalah
TM. Terlebih lagi dalam laporan tim ideintifikasi disebutkan dalam penggalian
kerangka ditemukan dalam posisi kedua tangan yang bersilang ke belakang, seolah
ia terikat ke belakang.
“Waku
saya temukan makam itu tidak dirawat, hanya ada batu. Kepastian menemukan makam
itu dimungkinkan karena Tan Malaka adalah orang kedua yang dikuburkan di desa itu.
Desa Selopanggung didirikan tahun 1930-an dan waktu itu semua penghuninya masih
muda. Dan pendiri desan itu meninggal sebelum Tan malaka. Waktu Tan Malaka
dikuburkan di desa itu baru ada satu kuburan. Pada tahun 1949 banyak beberapa
penduduk masih ingat ada kuburan kedua, tanpa batu. Karena itulah, bisa
diketahui bahwa itu adalam makam TM,” paparnya, seraya menambahkan jika benar
itu adalah makam Tan Malaka maka sudah semestinya pemerintah memberi
penghormatan padanya.
“Bisa
memindahkan makamnya atau membuat monumen penghormatan di makamnya yang
sekarang,” imbuh sejararawan dan peneliti sekaligus Direktur Penerbitan KITLV
Belanda yang telah menjelajahi berbagai negara di 4 benua demi meneliti seorang
Tan Malaka ini.
Kalau semua fakta TM diangkat apakah
ada keberatan-keberatan, misalnya, dari pihak militer sekarang sehubungan
dengan kedekatan Panglima Besar Soedirman dan TM dalam Persatoean Perjoeangan
tahun 1946?
Saya
pikir tidak. Mungkin di masa Orba semua itu ditutupi. Tapi sekarang orang
melihatnya sebagai perkara sejarah yang menyedihkan. Bisa disayangkan, tapi
inilah yang terjadi semasa gerilya. Karena itulah saya berharap dengan penemuan
makam TM ini juga agar ia bisa dimakamkan dengan layak dan diberi penghormatan
terhadapnya/
Ini
mungkin pertanyaan klise, menurut Anda apa sebenarnya makna TM bagi Indonesia
hari ini?
Ya,
saya sering menghadapi pertanyaan, apa gunanya Tan Malaka dalam kenyataan
Indonesia sekarang. Saya kira, dia adalah contong paling penting tentang
bagaimana seseorang bagaimana seseorang memperjuangkan nasib bangsa dan
negaranya, dengan melalui berbagai penderitaan yang menyurutkan semangatnya.
Saya
yakin Anda bukan seorang komunis, lalu bagaimana Anda dengan kritis memandang
TM sebagai tokoh pergerakkan?
Saya
kira dalam memperjuangkan politik praktisnya dia dia seorang yang gagal. Dan
ini mungkin karena sifat-sifat pribadinya. Tapi, juga karena bagi saya dia
bukan seorang politisi. Ia sebenarnya adalah seorang guru dan ia mau memberi
pentunjuk pada bangsa dan negara Indonesia untuk menjadi salah satu negara yang
sejahtera dan sosialistis. Seandainya pun ia tak meninggal tahun 1949, saya
kira tetaplah sulit baginya untuk mewujudkan cita-citanya. Meski ia seorang
ahli pidato yang baik sekali.
Menurut
Anda dia lebih cocok sebagai pemikir ketimbamg politisi, begitu?
Ya,
seperti orang yang memberi nasehat di belakang layar. Sebagai politisi dia
selalu gagal karena juga dia dilupakan. Dan kita tahu sejarah selalu ditulis
oleh orang yang menang. Ironisnya TM tak pernah menang.
Tapi
bukankah Anda sempat juga mengatakan bahwa TM adalah seorang Che Guevara Asia?
Ya,
malah Che Ghuevara itu Tan Malaka-nya Amerika! (tertawa). Saya melihat banyak
mahasiswa di Indonesia mulai tertarik pada TM, dan membuat kaosnya. Tapi
seperti pada Che Ghuevara, saya lihat mereka lebih tertarik pada
petualangannya ketimbang pada pemikiran TM.
Ngomong-ngomong,
apakah Anda yang menemukan Harry Poeze atau Harry Poeze yang menemukan Anda?
(Tersenyum)
TM dididik di Belanda sekolah guru, dan ini ia mendapat dukungan dari seorang
guru Belanda, Horensma namanya. Dan waktu ia ditahan di Jawa karena menjadi
ketua PKI dan organisator sekolah-sekolah sosialis, ia menulis surat pada
Horensma dan mengatakan “Walaupun warna kulit kita berbeda, saya yakin bahwa
rasa persamaan pada nilai-nilai demokrasi dan persabahatan kita bisa melampaui
perbedaan warna kulit itu”. Nah, saya bayangkan, dan saya begitu juga TM
berpikir tentang saya (tertawa). (Ahda
Imran)**
Langganan:
Postingan (Atom)