Rabu, 17 Juli 2013

Madilog dan Teori Politik Tan Malaka




Ilustrasi teori politik
Berbagai macam teori politik modern berkembang saat ini. Teori politik pada umumnya tidak bisa dipastikan menjadi satu kesatuan yang tetap. Seorang individu atau kelompok depat menetukan teori politiknya sendiri, sesuai dengan kondisi sosial yang sedang berkembang tentunya.
Perihal mengenai politik pasti menjadi perbincangan yang menarik dari sebuah negara. Politik selalu erat dengan pemikiran seseorang yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kehidupan sosial di sekitarnya. Teori politik pun menjadi semacam pembenaran ketika melakukan sesuatu yang dianggapnya benar.
Teori politik sendiri sebenarnya memiliki dua makna. Bergantung dari mana orang tersebut memandang politik itu sendiri. Pengertian teori politik yang pertama adalah teori politik sebagai hasil pemikiran bersifat spekulatif mengenai pengaturan masyarakat dan aturan-aturan di sekitar masyarakat yang ideal.
Berbeda dengan pengertian teori politik yang kedua. Teori politik yang kedua cenderung lebih bersifat ilmiah. Teori politik dipandang sebagai suatu kajian yang sistematis, terarah dan terkendali yang berkenaan dengan segala kegiatan bermasyarakat.
Kedua pengertian dari teori politik in kemudian secara tidak langsung menimbulkan dua pandangan yang berbeda. Para pemikir pun sibuk mengelompokkan pendapat mereka tentang apa itu politik. Termasuk para pemikir Indonesia yang mengabdikan hidupnya untuk hal yang cukup rumit ini.
Mengapa rumit? Rasanya semua orang akan setuju jika politik merupakan hal yang cukup rumit. Dari dua persepsi yang berbeda tentang teori politik saja bisa dapat dipastikan bahwa politik akan menimbulkan polemik khasnya. Perbedaan pendapat bahkan sudah mendasari dan melatarbelakangi terciptakan politik di masyarakar.
Pergolakan yang mengatasnamakan politik tidak pernah habis dibahas. Selalu akan ada permasalahan baru yang erat kaitannya dengan hal yang satu itu. Teori politik yang dikeluarkan oleh para orang pintar itu kemudian menjadi semacam tameng. Tameng untuk melindungi dirinya, pemikirannya, dan orang-orang yang berada di pihaknya. Istilah seperti konspirasi merupakan salah satu penggambaran jelas tentang ini semua.
Bagaimanapun keadaannya, teori politik akan tetap menjadi sebuah teori, yang tidak akan lengkap tanpa praktik. Praktiknya adalah benar-benar menjalankan apa yang ideal untuk masyarakat. Jika tidak, spekulasi tentang teori politik ini akan terus berlanjut hingga entah kapan.
Salah satu teori politik pada zamannya yang saat itu menjadi pembicaraan adalah Tan Malaka. Indonesia memiliki sesosok pemikir yang kritis dalam memandang kehidupan politik di Indoensia. Teori politiknya yang liar, sempat dianggap sebagai "penganggu".

Teori Politik Tan Malaka – Perjalanan Politik Tan Malaka
Sosok dibalik teori politik “khusus” ini adalah Tan Malaka. Tan Malaka merupakan pria kelahiran Desa Nagari Pandam Gada, Sumatera Barat 19 Februari 1896. Perjalanan politiknya dimulai pada 1921. Aliran teori politiknya adalah sosialis. Tapi sosialis yang berbeda dengan yang lainnya. Hal ini terlihat saat ia pernah berselisih dengan partai komunis Indonesia yang juga beraliran sosialis.
Teori politik yang dianutnya ditunjukkan dengan mendirikan sebuah partai bernama Partai Muba. Semua itu terjadi begitu saja, dan ketika ia melihat sebuah perlakukan sosial yang tidak adil pada masyarakat saat menjadi guru di daerah
Kiprah politiknya dimulai adalah saat ia bertemu Semaun, salah satu tokoh politik. Mereka merencanakan gerakan yang ingin menjungkalkan pemerintah Hindia Belanda yang saat itu sewenang-wenang dan berkuasa. Bukti nyata yang tersaji saat itu adalah perlakuan tidak adil antara tuan tanah dan para pekerjanya. Teori politik yang dianut oleh Tan Malaka ini tentu saja ditentang oleh pihak Belanda.
Bersama Semaun, Tan Malaka yang punya pengalaman sebagai seorang pendidik, berniat untuk mendidik kaum muda yang tergabung dalam serikat Islam pada saat itu. Tan Malaka berpikiran bahwa melalui ilmu-ilmu belajar, teori politik yang dia percayai bisa ikut diamini oleh kaum muda.
Ilmu-ilmu yang akan dibagi pada saat itu adalah tentang aliran, dan ajaran politik komunis, kegiatan jurnalistik, tapi hal tersebut mendapat tentangan dari pemerintah Hinda Belanda yang saat itu berkuasa. Tapi Tan Malaka tidak menyerah saat itu. Ia tetap kukuh dengan apa yang akan dilakukannya. Ia tetap memegang teguh teori politik yang dianggapnya ideal tersebut.
Selain mengajar, untuk memberikan gambaran teori politik, Tan Malaka tetap melakukan gerakan-gerakan sosial yang berlandaskan adanya ketidakadilan di antara penguasa yang kapitalis dengan kesengsaraan buruh. Keseriusan Tan Malaka dalam hal-hal yang berkaitan dengan sosialis dan komunis. Hal ini terbukti, ketika ia ikut menyuarakan hak dan suaranya dalam kongres-kongres komunis di Moskow, Uni Soviet.
Peristiwa pemberontakan yang terjadi pada 1926, memaksa Tan Malaka untuk kembali pulang ke Indonesia, akibat ia tangkapnya beberapa pejuang-pejuang politik pada saat itu. Akhirnya, Tan Malaka dengan beberapa temannya berjuang lagi dari bawah dan membuat Partai Republik Indonesia, untuk kembali memperjuangkan Indonesia sesuai dengan apa yang diinginkannya. Meskipun teori politik yang dianutnya membuat ia kesusahan, Tan Malaka tetap tidak menyerah.

Teori Politik Tan Malaka dan Ajaran Madilog
Hal yang paling diingat dari teori politik Tan Malaka adalah ajaran Madilog. Madilog dikembangkan karena ajaran tersebut menggabungkan sebuah kajian ilmu yang sudah diterapkan dan disesuaikan dengan keadaan serta budaya di Indonesia.
Dengan "Madilog", ini Tan Malaka juga ingin membawa republik Indonesia ke tingkatan yang lebih baik. Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah sebuah bukti nyata atau fakta-fakta yang telah terjadi selama ini. Sementara idealisme yang diusung oleh Tan Malaka adalah sikap seseorang, pikiran, serta kesatuan yang terwujud. Teori politik yang dianutnya dirasa pas dengan ajaran-ajaran dari Madilog.
Sifat seperti ini memang sudah dialami Tan Malaka saat ia melihat penindasan yang semena-semena, antara pemerintah Hindia Belanda terhadap orang-orang di Indonesia, pada saat itu. Hal itu dilakukannya terus, termasuk saat transisi setelah Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya pada 1945. Teori politik yang dianutnya itu menjadi pegangan Tan Malaka dalam bertindak.
Kegiatan dan ajaran Madilognya tersebut membuat ia menjadi sosok yang dianggap pengganggu. Tan Malaka pernah ditangkap pada 1946 akibat teori politiknya. Tapi dibebaskan, ketika terjadi pemberontakan PKI pada 1948. Peristiwa pemberontakan yang dilakukan PKI beriringan dengan apa yang terjadi pada saat transisi kemerdekaan Republik Indonesia, serta beberapa peristiwa lainnya seperti Perjanjian Linggarjati, serta Perundingan Renville.
Teori Politik Tan Malaka – Menghilangnya Seorang Tan Malaka
Dengan situasi yang tidak terkendali pada saat itu, Tan Malaka mendirikan partai baru yang diberi nama Murba dan masih menyandang teori politiknya yang madilog. Di masa transisi dengan keadaan yang tak terkendali, Tan Malaka seperti menghilang begitu saja.
Berbagai cerita dan versi mengatakan bahwa Tan Malaka meninggal saat memperjuangkan teori politiknya dari satu ke tempat lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa ia ditembak mati oleh pihak militer yang mengatakan bahwa Tan Malaka adalah "ancaman" tersendiri. Apa pun versi menghilangnya seorang Tan Malaka, ia tetaplah seorang pahlawan.
Hal itu bisa dilihat dari caranya memandang sesuatu permasalahan dan mengatasi permasalahan, dimulai dari berkuasanya pemerintah Hindia Belanda, sampai pada saat transisi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Teori politik Madilognya akan selalu dijadikan sebagai bahan kajian ilmu politik yang terus berkembang hingga saat ini.
MADILOGnya Tan Malaka
Dan mereka berkata : "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanalah menduga-duga saja (QS 45:24).
Dalam dunia kayal (imajinasi, fantasi) Tan Malaka, berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG)nya, maka perarungan antara klas yang berpunya danklas yang tak berpunya akan berakhir dengan kemenangan klas yang tak berpunya. Dalam kayalnya, klas yang takberpunya itu adalahklas yang kuat, sedangkan klas yang berpunya itu adalah klas yang lemah, maka dalam pertarungan, yang lemah kalah, yang kuat menang. Dalam dunia kayal bisa terjadi seperti itu. Tapi dalam dunia nyata (realita), teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG) adalah omong kosong belaka. Bahkan berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG) sendiri tak pernah ditemukan, dijumpaibukti dalam dunia nyata, bahwa yang tak erpunya bisa mengalahkan yang berpunya. Juga berdasarkan teori-hukum Dialektika Materialis (MADILOG), maka pertarungan itu takpernah berakhir. Tarik menarik antara proton positip dan elektron negatip takpernah berakhir. Akhir suatu pertarungan adalah awal pertarungan berikutnya. Pertarungan tak pernah berakhir.Tak ada yang berhenti, semuanya bergerak terus menerus. Berakhirnya pertarungan adalah berakhirnya gerak, tammatnyadunia. Tammatnya dunia bertentangan sekaligus bersesuaian dengan Dialektika Mterialis (MADILOG).
MADILOGnya Tan Malaka tak pernah dapat perhatian dan sambutan dari siapa pun. Tak ada literatur yang mendukung, mengulas, menafsirkan MADILOGnya Tan Malaka daripara proletar, Murba, Komunis. Anjuga tak ada literatur yang mengecam,menantang, mengkritik MADILOGnya Tan Malaka dari para borjuis, Kapitalis.
Salaha atu keahlian Tan Malaka dengan Dialektika-Materialis (MADILOG)nyaadalah kejeniusannya membungkus, mengemas teori (kayal)nya sehingga sepintas tamapak terlihat nyata dalamrealita dengan bukti-buktiilmiah. Tan Malaka sangat lancar (bertele-tele) mengangkat bukti-bukti ilmiah untuk memenangkan klas yang tak berpunya atas klas yang berpunya. Tapi tak pernah menampilkan bukti nyata atas keberpihakkannya pda klas yang tak berpunya dalam realita, dalam praktek, bukan dalam dunia teori (kayal). Asas program, pidato, karangan, propaganda dan agitasi yang nyata (dalam kayal Tan Malaka) gagl mempersatukan seluruh yang tak punya. Tan Malaka tetapsaja berada di awang-awang idealis, tak berpijak pada bumi realis.
Para ahli diharapkan dapat menyusun sanggahan/sangkalan (bab per bab, pasal per pasal, paragraf per paragraf, alinea per alinea) untuk meluruskan, membetulkan, mengoreksi seluruh teori, ajaran, pseudo ilmiah yang sesat mnysatkan. Tan Malaka sejak dari awal sampai akhir MADILOGnya secara licin/licik (rekayasa logis-rasional) menggiring pembacanya ke arah atheis, menolak, menyangkal "kun fa yakun", mengembalikan semuanya pada serba benda (materialis), barang mati (anorganik), tanpa nyawa, tanpa jiwa, tanpa hati, tanpa prasaan (brain, hart, intellect, mind, ratio, reason, sense, soul, spirit), yang hanya bisa diserap/dicerap oleh panca indra. Tan Malaka gagal menjelaskan prbedaan antara sel/atom kayu bakar dengan sel/atom pohon beringin.
Ahli Ilmu Alam benda mti (Ilmu Bukti) murni mempelajari aktivitas alam dunia dan mencari hukum-hukum tentang aktivitas alama dunia itu saja, tidak memasuki wilayah ketuhanan (theologi), alam akhirat. Ahli Filsafat dikatakan terbagi dua. Pertama, Ahli Filsafat Idealis berfikir secara abstrak, tidak berdasarkan benda. Kedua, Ahli Filsafat Materialis berfikir secara konkrit, berdasarkan benda mati (materialis(. Yang merasa diri sebgai Ahli Filsafat Materialis semacam Tan Malaka sangat bernafsu menggunakan hasil temuan Ahli Ilmu Alam benda mati (Ilmu Bukti) untuk menyangkal, menolak, mengingkari adanya Tuhan Yang Mah Esa, alam akhirat.
Tan Malaka mengisahkan bahwa Tan Malaka kecil/muda lahir dalam keluarga Islam yang taat. Diantara keluarganya adalah seoang alim ulama yang dianggap keramat. Kedua Ibu Bapaknya taat dan takut kepada Allah dan menjalankan suruhan Nabi.Tan Malaka kecil sudah bisa menafsirkan alQur:an dan dijadikan guru muda (asisten). Matanya basah ketika mendengarkan cerita kepiatuan Muhammad bin Abdullah. Ia menghapal dalam bahasa Arab dan Belanda. Ia menganggap bahasa Arab sempurna, kaya, merdu, jitu dan mulia. Ia menammatkan terjemahan alQur:an dalam bahasa Belanda bebrapa kali. Ia membaca tentang Islam dari Snouck Hurgronya, Sales, Maulana Mohammad Ali. Namun Tan Malaka dewasa mempertanyakan, mempermasalahkan, mempersoalkan : Dimanakah tempatnya nerakaitu ? Apa bahaya apineraka yang menyala terus menerus itu ? Bagaimana bisa mayat-mayat yang sudah hancur luluh dan lebur itu digenap bulatkan kembali ? Bagaimana bisa Tuhan Yang Maha Kasih itu sampai hati melihat makhluk yang dijadikanNya itu berteriak-teriak menjerit-jerit dimakan api neraka yang maha panas itu ? Setelah mempelajari, merenungkan, menyaksikan, mengetahui Alam Terkembang, mka dalam otak, benak, tengkorak Tan Malaka bersarang tersimpul, terlihat bahwa semuanya itu hanyalah benda anorganik belaka, takada alam akhirat, tak ada Tuhan. MADILOGnya Tan Malaka berupaya meyakinkan untuk mengakui bahwa yang pantas diagungkan, dikagumi, diperingati adalah keributan tahun 1926 yang dipengaruhi PKI, dan pemimpin PKI semacam Dahlan, AliArcham, Haji Misbah, Sugono, Dirja, dan lain-lain. Bagaimana pun pintarnya bersilat lidah, menjungkir-balikkan kebenaran dengan MADILOG (Materialis, Dialektika, Logika), namun Tan Malaka tak pernah dikenal sebagai sosok yang jujur, yang omongannya bisa dipercaya, yang setia menyantuni para proletar.
Orang-orang komunis beranggapan bahwa kebenaran abadi yang tidak dapat diragukan, yang tidak dapat diperdebatkan adalah "Dialektika Materialisme" (Muhammad Quthub : "Jawaban Terhadap alam Fikiran Barat Yang Keliru Tentang Al-Islam", 1981:42).
Logika Aristoteles "ORGANON" (alat untuk mencapai kebenaran) sampai sekarang masih dipandang tahan dari kritik-kritik (Drs M Umar, dkk : "Fiqih-Ushul Fiqih-Mantiq", I, 1984/1985:104).
Orang-orang atheis mencoba memungkiri adanya Tuhan, merasakan dirinya diadakan oleh alam secara kebetulan. Mereka terus mencoba mempengaruhi manusia untuk mempercayai adanya hidup tanapa adanya Tuhan. Tetapi teori evolusi Darwin tentang hidup membuktikan bahwa hidup muncul tanpa Tuhan itu adalah pengakuan yang bertentangana dengan fitrah manusia itu sendiri. Fitrah manusia mengakui, mengmani adanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa (Sayyid Quthub : "Tafsir Dibawah naungan alQur:an", II, 1985:84).
Imam alGhazali mengelompokkan ahali-ahli filsafat ke dalam tiga golongan : Pertama, Golongan Dahri (Filsafat skepstis, atheis, materialis, eksistensialis, zindiq), yaitu yang p3ercaya kepada keabadian dari pada benda (Hukum Kekekalan Massa dan Hukum Kekekalan Energi) dan menolak meyakini adanya Yang maha Pencipta (generatio spontanae). Kedua, Golongan Thabi’I (Filsafat Naturalis) yaitu yang percaya terhadap Yang Maha Pencipta, tapi berfikir bahwa jiwa manusia itu ketika berpisah dari pada tubuh kasar juga ikut mati dan oleh sebab itu tidak ada perhitungan mengenai tindak-tanduk manusia. Ketiga, Golongan Ilahi (Filsafat Deis), yaitu yang percaya kepada Tuhan (Imam alGhazali : "Pembebas Dari Kesesatan", 1986:21-23, Sayid Amir Ali : "Ilham Islam", 259-260).
Sebagian pertanyaan yang mungkin bersarang di benak, di otak orang-orang semacam Tan Malaka, dapat disimak antara lain dalam Mingguan PERTAHANAN ISLAM, Fort de Kock (Bukittinggi, Sumatera Barat), No.1, Tahun ke-I, 15 Maret 1939, hal 14-19. Sedangkan jawabannya, dapat ditemukan antara lain dalam "Islam & Wetenschap" (Islam dan Sains Modern), I-III, 1938, terbitan Boekhandel KAHAMY, Fort de Kock Bukittinggi, Sumatera Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar